Film animasi Indonesia Merah Putih One For All telah menciptakan kontroversi sejak pengumumannya pertama kali. Kabar terbaru menyebutkan bahwa film tersebut menggunakan karakter 3D tanpa izin dari pembuatnya. Informasi ini disampaikan oleh seorang seniman 3D asal Pakistan, Junaid Miran, yang mengklaim tidak pernah dihubungi atau diberikan kredit atas karakter 3D-nya yang diduga digunakan dalam film tersebut. Banyak pengguna juga bereaksi marah terhadap hal ini, meminta Junaid untuk menuntut pihak film. Beberapa bahkan mengusulkan agar bioskop tidak menayangkan film Merah Putih One For All. Sebelumnya, publik telah mempertanyakan aset karakter dalam film yang memiliki anggaran sebesar Rp 6,7 miliar. Produser dan sutradara film Endiarto mengungkapkan bahwa kemiripan antara aset filmnya dengan aset dari Reallusion Content Store merupakan hal yang sah, tanpa menjawab apakah desainnya diambil dari platform animasi luar negeri. Dia menegaskan bahwa film animasi memiliki kebebasan style dan interpretasi desain, serta setting yang disiapkan untuk mencerminkan alam Indonesia dan pedesaan. Aset yang digunakan dalam film ini terjual dengan harga sekitar Rp 700 ribu, dan Junaid sendiri juga menjual aset karakternya melalui platform tersebut. Semua kontroversi ini semakin meningkatkan perbincangan di kalangan netizen.
Kontroversi Penggunaan 6 Karakter Film Merah Putih di One For All
Read Also
Recommendation for You

AS telah berhasil memblokir peralatan telekomunikasi dari Huawei dan ZTE sejak tahun 2022 dan sekarang…

Melissa Siska Juminto telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Direktur Tokopedia dan TikTok E-commerce…

Perusahaan teknologi China bernama Moonshot telah mengalami lonjakan valuasi sebesar Rp 8,5 triliun hanya dalam…

Industri robot humanoid mengalami lonjakan komersialisasi pada tahun 2025, dengan lebih dari 16.000 unit dipasang…








