Badai Topan Ragasa telah membuat beberapa negara mengeluarkan perintah evakuasi sebagai langkah antisipasi terhadap banjir dan tanah longsor yang dapat terjadi. Channel News Asia melaporkan bahwa Taiwan telah mengeluarkan perintah evakuasi, dengan hampir 300 orang akan dievakuasi dari Kabupaten Hualien di wilayah timur. Badai ini, yang sedang mengalami intensifikasi cepat, diprediksi akan mendarat di wilayah kepulauan Batanes atau Babuyan di Filipina. Meskipun dua wilayah ini jarang dihuni, tetapi potensi bencana tetap tinggi, sehingga langkah evakuasi dini dianggap sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.
Ahli cuaca Filipina memperingatkan tentang potensi banjir dan tanah longsor di wilayah utara Luzon, dengan dampak terkuat diperkirakan akan dirasakan pada Senin pagi. Di Hong Kong, observatorium setempat memperkirakan cuaca akan memburuk pada Selasa dan Rabu, dengan angin topan dan gelombang pasang diprediksi mirip dengan dampak dari Topan Mangkhut pada tahun 2018.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia juga mengeluarkan peringatan terkait Siklon Tropis Ragasa yang terpantau di Laut Filipina timur Pulau Luzon. BMKG memprediksi bahwa kecepatan angin maksimum dari siklon tropis ini akan meningkat dalam 24 jam ke depan, dengan pergerakan menjauhi wilayah Indonesia. Selain Ragasa, Bibit Siklon Tropis 92W juga diperkirakan akan berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-72 jam ke depan, dengan kategori peluang ‘rendah’.
BMKG juga mengungkap bahwa Siklon Tropis Ragasa akan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia dalam 24 jam ke depan, termasuk potensi hujan sedang-lebat di beberapa wilayah seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua. Dengan berbagai peringatan ini, diharapkan masyarakat dapat waspada dan siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang dapat terjadi akibat dari Badai Topan Ragasa.












