Satelit kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, mulai dari komunikasi, prakiraan cuaca, hingga pemantauan lingkungan. Banyak yang mungkin belum memahami bagaimana satelit bisa bertahan mengorbit di angkasa. Peneliti Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa kecepatan orbit menjadi kunci utama yang harus disesuaikan dengan ketinggian. Semakin rendah orbit, semakin besar tarikan gravitasi, sehingga satelit harus bergerak lebih cepat. Sebaliknya, di orbit tinggi, kecepatan yang dibutuhkan lebih rendah. Sebagai contoh, satelit di orbit rendah atau low earth orbit (LEO) sekitar 600 kilometer dari permukaan Bumi harus melaju sekitar 7,56 km/s, sementara satelit di orbit geostasioner (GEO) yang berada 35.786 km dari Bumi hanya memerlukan kecepatan sekitar 3,075 km/s.
Satriya juga mengungkapkan bahwa hukum dasar yang mengatur pergerakan satelit adalah Hukum Kepler dan Gravitasi Newton. Dari hukum ini, muncul konsep kecepatan orbit dan kecepatan lepas atau escape velocity. Meski orbit satelit tidak sepenuhnya stabil, faktor seperti hambatan atmosfer tipis di ketinggian rendah dan bentuk Bumi yang tidak sempurna dapat memengaruhi lintasan satelit secara perlahan. Selain itu, Satriya juga menjelaskan berbagai jenis orbit sesuai dengan kebutuhan misi satelit, seperti LEO cocok untuk satelit penginderaan jauh, MEO untuk sistem navigasi GPS, dan GEO untuk komunikasi dan siaran langsung.
Saat ini, satelit buatan Indonesia beroperasi di orbit LEO namun memiliki keterbatasan waktu kontak dengan stasiun bumi. Untuk memperpanjang akses data, solusinya adalah dengan memperbanyak ground station. Indonesia memiliki empat stasiun bumi di Tabing (Sumatra Barat), Parepare (Sulawesi Selatan), Biak (Papua), dan Rancabungur (Bogor) yang berfungsi sebagai pusat kendali. Dengan demikian, pemahaman tentang mekanisme orbit satelit dapat membantu mengoptimalkan penggunaan teknologi satelit, memenuhi kebutuhan misi, dan memperluas akses data.










