Industri kendaraan otomatis tanpa sopir masih belum mencapai tingkat kematangan yang optimal, meskipun raksasa teknologi dan perusahaan otomotif terus berlomba-lomba memperkenalkan inovasi terbaru mereka. Saat ini, berbagai perusahaan telah mulai meluncurkan layanan taksi otomatis atau robotaxi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, China, dan Singapura. Kemunculan robotaxi ini menjadi ancaman bagi profesi driver online, seiring dengan meningkatnya popularitas layanan ride-hailing yang mulai mengadopsi teknologi ini.
Tidak hanya itu, profesi sopir truk juga mulai menunjukkan gejala kepunahan meskipun belum terjadi dalam waktu dekat. Beberapa perusahaan telah mengumumkan langkah-langkah penting terkait dengan kendaraan otomatis. Misalnya, Gatik, sebuah startup AV dan logistik, berencana meluncurkan truk otomatis tanpa sopir untuk jarak menengah. Perusahaan ini telah mengumumkan kemitraan jangka panjang dengan peritel terbesar di Kanada, Loblaw. Gatik akan menyediakan 20 truk otomatis pada akhir 2025 untuk mengantar paket ke toko-toko Loblaw di area Toronto.
Di sisi lain, startup Kodiak Robotics dari Amerika Serikat juga sedang mengembangkan truk otomatis untuk digunakan di berbagai sektor seperti jalan raya, industri, dan pertahanan. Perusahaan ini akan melantai di bursa Nasdaq dengan nama KDK dan KDKRW. Kodiak AI, yang sekarang menjadi nama perusahaan, berencana untuk go public melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus Ares Acquisition Corporation II. Nilai perusahaan ini diperkirakan mencapai sekitar US$2,5 miliar.
Kendaraan otomatis diprediksi akan menjadi masa depan transportasi darat secara luas, menurut CEO Kodiak AI, Don Brunette. Namun, saat ini masih belum jelas kapan teknologi ini akan tersebar luas di Indonesia dan bagaimana dampaknya terhadap profesi yang ada. Penerapan teknologi baru harus didukung dengan regulasi yang tepat untuk melindungi pekerjaan yang ada dan mencegah peristiwa PHK massal. Semua pihak menantikan perkembangan selanjutnya dalam industri ini.












