Shein, raksasa e-commerce asal China, baru-baru ini dilaporkan membuka toko fisik pertamanya di Perancis, sebuah langkah yang mengundang kritik dari pengecer lokal. Sebelumnya, Shein hanya membuka pop-up store sementara untuk keperluan pemasaran. Kolaborasi antara Shein dan Societe des Grands Magasins (SGM) sebagai pemilik departemen store menjadi langkah strategis untuk menarik perhatian klien muda. Selain menjual produk Shein, toko fisik ini juga memiliki kemungkinan menjual tas tangan desainer. Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya disambut baik, terutama oleh Galeries Lafayette yang merasa bahwa hal itu melanggar perjanjian waralaba.
Berdasarkan kritikan dari Ketua asosiasi ritel mode Perancis, Yann Rivoallan, kehadiran Shein di pasar Perancis dianggap dapat mengakibatkan banjirnya produk sekali pakai. Sementara itu, Walikota Paris Anne Hidalgo juga menegaskan keprihatinannya terhadap keputusan tersebut yang dinilainya bertentangan dengan tujuan kota yang dipegangnya, yaitu mendukung bisnis lokal dan produk buatan lokal. Shein dikenal dengan penawaran produk pakaian dan aksesoris dengan harga yang sangat terjangkau, yang mana lebih murah dibandingkan dengan merek fashion ternama asal Perancis. Strategi bisnis yang digunakan Shein dengan mengirimkan paket langsung dari China ke pembeli membantu dalam memangkas harga. Keuntungan lain yang didapatkan Shein adalah aturan bea cukai yang mengesampingkan bea masuk untuk paket e-commerce dengan harga murah. Kabar terkait perkembangan ini belum direspon langsung oleh pihak Shein.












