Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah meningkatkan penggunaan konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) untuk strategi komunikasi inti di Gedung Putih. Penggunaan AI terutama terlihat di saluran media sosialnya, Truth Social, di mana konten AI digunakan untuk memoles citra Trump dan menyerang kritikusnya, terutama terkait isu-isu kontroversial.
Konten AI yang dipublikasikan oleh Trump atau Gedung Putih sering kali melewati batas antara kampanye politik dan distorsi realitas. Misalnya, bulan lalu Trump memposting video palsu yang menunjukkan dirinya mengenakan mahkota dengan jets tempur “King Trump” yang menjatuhkan objek yang tampak seperti kotoran ke pengunjuk rasa. Video tersebut disertai lagu “Danger Zone” dari Kenny Loggins dan diposting pada hari yang sama dengan protes nasional “No Kings” menentang perilaku otoriter yang disematkan padanya.
Selain itu, Gedung Putih juga memposting gambar AI yang menggambarkan Trump sebagai Superman dan dalam berbagai peran lainnya, semisal sebagai Paus, di samping singa, atau memimpin orkestra. Trump juga sering menggunakan AI untuk mengolok lawan politiknya, seperti mantan Presiden Barack Obama atau politisi Hakeem Jeffries. Penggunaan citra palsu ini berhasil menipu beberapa pengguna media sosial yang ragu tentang keasliannya.
Beberapa pengamat melihat strategi Trump ini sebagai kampanye yang menggunakan “trolling” lebih daripada menyebarkan keyakinan palsu. Mereka menyebut bahwa AI generatif yang tidak diatur merupakan alat yang sempurna bagi Trump untuk mempengaruhi opini publik dan mendistorsi realitas. Namun, penasihat senior di kelompok advokasi Free Press, Nora Benavidez, menilai bahwa Trump memperdagangkan disinformasi untuk memperkuat citranya dan mengendalikan narasi publik. Strategi ini lebih terlihat sebagai kampanye melalui penggunaan “trolling” daripada upaya aktif untuk menyebarkan kebohongan.
Dalam hal ini, penggunaan konten AI oleh Trump telah menimbulkan kontroversi dan kritik terutama terkait dengan keaslian, etika, dan dampaknya terhadap masyarakat. Meskipun dapat menarik perhatian, banyak yang menilai penggunaan AI untuk tujuan tersebut sebagai upaya yang merugikan bagi demokrasi dan integritas informasi.












