Investasi besar dari perusahaan raksasa global saat ini mengalir ke Indonesia untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI), terutama dalam pembangunan data center. Hal ini membuat Indonesia menjadi sorotan sebagai pasar strategis di Asia-Pasifik yang menarik minat investor. Meski demikian, tidak terlepas dari tantangan besar terkait biaya dan infrastruktur. Berdasarkan laporan Data Centre Construction Cost Index 2025 dari Turner & Townsend, biaya konstruksi data center di Jakarta tercatat lebih murah dibandingkan dengan Singapura dan Tokyo.
Indonesia, Malaysia, dan Mumbai juga menjadi pasar yang diminati, meskipun tantangan terkait ketersediaan listrik dan rantai pasok teknologi dianggap sebagai hambatan dalam ekspansi industri data center. Meskipun pasokan listrik dinilai memadai di Indonesia, infrastruktur transmisi tegangan tinggi menjadi kendala yang perlu diatasi. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan jaringan tenaga listrik.
Turner & Townsend juga mencatat bahwa rantai pasok lokal Indonesia belum siap untuk mendukung teknologi pendinginan canggih berbasis liquid cooling yang diperlukan dalam data center AI berdensitas tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya investasi dalam pengadaan, desain hemat energi, dan solusi koneksi listrik off-grid guna mengurangi ketergantungan pada jaringan utama.
Perusahaan seperti OpenAI telah mempercepat pembangunan data center AI di Indonesia sebagai upaya untuk memperkuat infrastruktur AI di negara ini. Mereka menekankan bahwa daya listrik bukan hanya sebagai utilitas tetapi juga sebagai aset strategis dalam pembangunan infrastruktur AI. Hal ini juga menggambarkan pentingnya untuk terus berinvestasi dalam peningkatan infrastruktur guna mendukung permintaan industri yang terus berkembang.
Dalam perkembangan terbaru, OpenAI menyebut listrik sebagai “minyak baru” yang krusial dalam menjaga kepemimpinan dalam teknologi AI. Mereka membandingkan kesenjangan listrik antara AS dan China sebagai “jurang elektron” atau electron gap yang perlu diatasi. Dengan proyek-proyek data center AI yang membutuhkan pasokan listrik besar, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat data center masa depan di Asia Tenggara. Menurut Sumit Mukherjee dari Turner & Townsend, Indonesia memiliki kombinasi ideal untuk menjadi lokasi data center terkemuka di kawasan ini.












