Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk sementara memblokir akses terhadap chatbot kecerdasan buatan Grok milik Elon Musk. Tindakan ini menarik perhatian media asing, terutama Reuters dan The Guardian, yang mengkritik keputusan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap risiko konten pornografi hasil kecerdasan buatan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak, dari praktik deepfake seksual. Perusahaan di balik Grok, xAI, mengakui adanya celah keamanan yang memungkinkan munculnya konten seksual, termasuk visual anak-anak dalam pakaian minim. Elon Musk sendiri telah menegaskan bahwa penggunaan Grok untuk konten ilegal akan berhadapan dengan konsekuensi hukum yang sama seperti mengunggah konten ilegal lainnya. Pemerintah Indonesia berpegang teguh pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2020 yang mewajibkan platform elektronik untuk tidak menyebarluaskan konten terlarang. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, juga menyoroti kurangnya pengaturan dalam Grok AI untuk mencegah penyebaran konten pornografi berbasis foto pribadi warga Indonesia. Akibatnya, pemerintah telah memanggil perwakilan platform X untuk meminta klarifikasi dan menekankan bahwa akses akan dipulihkan setelah memenuhi kewajiban perlindungan pengguna sesuai hukum Indonesia. Penutupan sementara akses Grok menjadi perdebatan global, dengan kemungkinan dampak yang lebih luas terkait penggunaan kecerdasan buatan untuk tujuan yang tidak etis.
Media Asing Soroti Blokir Grok AI Milik Elon Musk di RI
Read Also
Recommendation for You

Memelihara kesehatan gigi tidak hanya berdampak pada kesehatan mulut, namun juga dapat menjadi faktor menentukan…

Penelitian terbaru telah mengungkapkan temuan arkeologis menarik di Leang Bulu Bettue, Sulawesi Selatan, yang menunjukkan…

Kimberlit adalah struktur vulkanik yang menjadi sumber sebagian besar berlian di Bumi. Struktur berbentuk pipa…

Peneliti telah mengidentifikasi 360 gempa di bawah Antartika yang sebelumnya tidak terdeteksi, yang berpotensi mengancam…








