Obat disfungsi seksual, Viagra, telah diidentifikasi sebagai salah satu kandidat potensial untuk pengobatan Alzheimer atau penyakit pikun. Keputusan ini didasarkan atas pendapatan dari 21 ahli kesehatan yang disampaikan dalam laporan penelitian yang terbit di jurnal Alzheimer’s Research & Therapy. Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan proses review terhadap 80 kandidat obat menggunakan metode konsensus Delphi, yang melibatkan partisipasi 21 ahli yang diminta untuk memilih opsi terbaik berdasarkan bukti klinis dan pendapat ahli.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa tiga kandidat terbaik yang diidentifikasi oleh para ahli adalah Sildanafil (Viagra), Zostavax (vaksin cacar ular), dan riluzole. Para ahli percaya bahwa ketiga obat tersebut memiliki potensi untuk menangani Alzheimer berdasarkan bukti mendukung mekanisme aksi, studi non-klinis, dan bukti klinis dari kajian epidemiologi atau uji coba klinis. Rekomendasi ini dapat menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut dalam upaya menemukan perawatan yang efektif untuk Alzheimer.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa Sildanafil dapat mengurangi risiko Alzheimer dengan mengurangi akumulasi protein tau di otak penderita. Di sisi lain, Zostavax diyakini memiliki potensi yang lebih tinggi dalam meningkatkan sistem imun tubuh untuk melindungi dari Alzheimer. Sedangkan, riluzole bekerja dengan cara mencegah kematian neuron dan mengubah alur biologis yang terkait dengan kondisi pikun.
Menurut Anne Corbett, seorang ahli dari University of Exeter, melawan dementia memerlukan berbagai jenis penelitian untuk menemukan obat baru yang efektif dalam merawat dan mencegah kondisi tersebut. Dengan demikian, kandidat obat seperti Viagra, Zostavax, dan riluzole dapat menjadi harapan baru dalam upaya mengatasi Alzheimer.












