Setelah melalui negosiasi panjang, China akhirnya melepaskan kendali TikTok di Amerika Serikat ke entitas baru yang dipimpin oleh para elit AS. Dengan demikian, ByteDance, induk perusahaan dari TikTok asal China, tidak lagi memiliki kontrol atas aplikasi populer tersebut. Kesepakatan ini terjadi setelah AS mengancam untuk memblokir TikTok secara nasional jika masih dikendalikan oleh entitas dari China, dengan regulasi ini ditegakkan selama pemerintahan Joe Biden.
Pada masa pemerintahan Donald Trump, upaya untuk menunda pemblokiran TikTok dilakukan beberapa kali karena negosiasi belum mencapai kesepakatan. Trump menyatakan bahwa ia tidak ingin TikTok dihentikan karena platform tersebut berkontribusi dalam kampanyenya untuk menjangkau pemilih muda. Namun, dia menegaskan bahwa TikTok harus dipisahkan dari ByteDance agar tetap beroperasi di AS.
Reuters melaporkan dokumen yang menunjukkan bahwa porsi kepemilikan entitas baru yang mengendalikan TikTok di AS termasuk Oracle, perusahaan teknologi asal AS yang berbasis di Austin, Texas. Oracle, yang memiliki hubungan dekat dengan Trump, akan mengatur algoritma dan data pengguna TikTok di Amerika Serikat. Selain Oracle, ekuitas swasta Silver Lake dan firma investasi asal Dubai, MGX, juga memiliki porsi kepemilikan yang sama.
Di bawah perjanjian AS-China, investor AS dan global secara bersama-sama mengendalikan 80,1% saham di TikTok USDS Venture LLC, sedangkan ByteDance hanya memiliki 19,9% kepemilikan saham. Oracle sendiri melakukan proyeksi peningkatan pendapatan dari data center AI di masa mendatang, yang telah melebihi perkiraan Wall Street pada kuartal yang berakhir pada Februari 2026.
Dengan demikian, kesepakatan tersebut membawa dampak signifikan bagi pengendalian TikTok di AS serta memperkuat posisi Oracle di pasar teknologi dan data. Selain itu, hubungan dekat Ellison dengan Trump dan keterlibatannya dalam megaproyek AI ‘Stargate’ menambah dimensi politik dan ekonomi yang menarik dalam dinamika perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat.












