Wilayah Bandung Raya tengah menghadapi ancaman gempa bumi dengan perkiraan kekuatan M 6,5-7 akibat aktivitas Sesar Lembang. Patahan ini memperlihatkan karakteristik kompleks dan berada dekat dengan daerah padat penduduk, sehingga menarik perhatian para peneliti geologi. Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan informasi tersebut dalam sebuah webinar yang membahas tentang Sesar Lembang dan upaya mitigasi gempa bumi di wilayah Bandung Raya.
Menurut Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Edy Slameto, survei terbaru telah dilakukan pada akhir 2025 dengan tujuan memahami lebih dalam karakteristik Sesar Lembang. Survei ini menggunakan berbagai metode, termasuk penginderaan jauh, survei lapangan, dan analisis kondisi bawah permukaan. Dari hasil survei tersebut, Sesar Lembang dibagi menjadi tiga segmen utama: barat, tengah, dan timur.
Setiap segmen menunjukkan karakteristik patahan yang berbeda, mulai dari kemiringan, kedalaman, hingga kompleksitas pola patahan. Selain risiko dari gempa utama, ada juga bahaya tambahan seperti gerakan tanah dan retakan permukaan yang dapat memperbesar dampak bencana. Karena kondisi geologi yang rapuh serta minimnya mitigasi dan ketahanan bangunan terhadap gempa, peningkatan kesadaran masyarakat dan upaya mitigasi gempa menjadi hal yang krusial dalam mengurangi risiko bencana di sekitar Sesar Lembang.












