Hantavirus: Gejala, Penularan, dan Kasus di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia – Hantavirus menjadi sorotan internasional setelah sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius terkena penyakit tersebut dan 3 di antaranya meninggal dunia. Virus Andes, salah satu jenis Hantavirus, disebut sebagai penyebabnya.
Fakta Menarik seputar Hantavirus
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan beberapa fakta penting terkait hantavirus. Virus ini terutama ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus liar yang sering ditemui di permukiman, pertanian, dan hutan. Sementara virus Andes berasal dari tikus liar di Patagonia, Argentina dan Chile.
Menurut Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, penularan hantavirus umumnya terjadi ketika orang menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Gejala awalnya mirip influenza, namun jika tidak didiagnosis secara dini, virus ini bisa menyebabkan Hantabirus Pulmonary Syndrome (HPS), suatu kondisi infeksi paru-paru yang serius.
Kasus Hantavirus di Indonesia
Sejak 1991, penelitian tentang hantavirus dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia oleh Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan. Meskipun belum ada laporan khusus virus Andes di Indonesia, masyarakat perlu tetap waspada terhadap ancaman hantavirus.
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga minggu ke-16 2026, dengan 3 kasus berujung pada kematian. Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah kasus terbanyak, sementara sebaran kasus lainnya juga mencakup beberapa daerah di Indonesia.
Perlu diingat bahwa hantavirus bisa mengancam siapa saja, oleh karena itu penting untuk mengenali gejalanya, menghindari kontak dengan hewan pengerat, dan melakukan deteksi dini untuk mengurangi risiko penularan virus yang berpotensi fatal ini.












