Teror Data Center: Dampak Buruk Pengembangan Teknologi AI Populer
Jakarta, CNBC Indonesia – Seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, raksasa teknologi berlomba-lomba membangun infrastruktur data center berskala besar sebagai penopang.
Investasi jumbo digelontorkan demi ambisi raksasa konglomerasi meraup untung sebesar-besarnya. Janjinya, AI akan membawa manfaat besar bagi perekonomian digital melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, dan inovasi.
Namun, ada harga mahal yang harus dibayar untuk mendorong revolusi AI. Kelas pekerja dihantui kecemasan bahwa posisi mereka akan digantikan sistem AI canggih.
Dampak di Masyarakat: Pekerjaan Hilang, Polusi Meningkat
Buktinya sudah terjadi di mana-mana. Gelombang PHK terus berlanjut dan perusahaan mengerem perekrutan karyawan baru. Adopsi AI telah memangkas biaya operasional, termasuk biaya untuk tenaga kerja manusia, menyisakan banyak pekerja yang sulit mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, pembangunan data center AI yang menjamur turut menimbulkan masalah lingkungan. Data center membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menjaga server tetap dingin dan pasokan listrik jumbo, menyebabkan krisis air dan listrik serta meningkatkan polusi lingkungan.
Penderitaan Keluarga Tergusur oleh Data Center
Salah satu kisah nyata dari dampak negatif data center adalah keluarga Beverly dan Jeff Morris dari Mansfield, Georgia, AS. Mereka, seperti masyarakat desa lainnya, harus menanggung konsekuensi hidup dengan suara berisik, lampu terus menyala hingga tengah malam, polusi lingkungan, dan tagihan listrik melonjak.
Dalam wawancara dengan media, Beverly memaparkan bagaimana kehidupan mereka terganggu oleh data center raksasa yang dibangun hanya 365 meter dari rumah mereka. Tekanan air menurun, kontaminasi parah menyebabkan kesulitan akses air bersih, dan polusi cahaya dan debu mengganggu keseharian mereka.
Akibat adanya data center tersebut, konsumsi listrik dan air di daerah tersebut melonjak tajam, sementara infrastruktur lokal tak mampu menangani beban yang semakin meningkat.
Sumber: CNBC Indonesia












