Bumi Makin Ritel, Tarikan Bulan Tak Lagi Penyebab Utama
Jakarta, CNBC Indonesia – Durasi sehari yang kita kenal rupanya sedang berubah secara perlahan namun pasti. Rotasi Bumi semakin melambat, bahkan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sejak 3,6 juta tahun terakhir. Fenomena ini menunjukkan dampak besar dari aktivitas manusia terhadap planet ini.
Perlambatan Akibat Perubahan Iklim
Dilansir dari laman Science Focus, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim ahli dari Universitas Wina dan ETH Zurich mengungkapkan bahwa perlambatan rotasi Bumi yang terjadi saat ini tidak lagi disebabkan oleh tarikan gravitasi Bulan seperti sebelumnya, melainkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global. Setiap harinya, waktu yang diperlukan Bumi untuk berputar penuh bertambah sedikit, diukur dalam milidetik. Meskipun angka ini kecil, namun dampaknya sangat besar.
Pencairan Es dan Perlambatan Rotasi
Penyebab utama rotasi Bumi yang semakin lambat adalah pencairan lapisan es di kutub dan gletser akibat naiknya suhu Bumi. Air yang dulunya membeku di wilayah kutub kini mencair dan mengalir ke lautan, mengubah distribusi berat planet ini. Perubahan ini mirip dengan prinsip atlet ice skating yang berputar, di mana posisi tangan dapat mempengaruhi kecepatan putaran.
Perlambatan rotasi Bumi selama ini memang terjadi secara alami akibat gravitasi Bulan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim kini menjadi pendorong utama perlambatan ini, bahkan diprediksi menjadi lebih dominan dibanding pengaruh Bulan di masa depan.
Konsekuensi Perlambatan Rotasi
Para peneliti memperkirakan bahwa dampak perubahan iklim terhadap rotasi Bumi akan melebihi efek gravitasi Bulan sebelum tahun 2100 jika suhu Bumi terus naik. Meskipun selisih waktunya kecil, hal ini dapat berdampak pada keakuratan sistem GPS dan navigasi wahana antariksa. Perlambatan rotasi ini menjadi bukti nyata dari pengaruh manusia terhadap planet ini.
Inti dari penemuan ini adalah kesadaran akan dampak aktivitas manusia terhadap sistem Bumi. Manusia telah mengubah mekanisme dasar dari planet ini, yang sebelumnya dianggap abadi dan tidak terganggu. Tim peneliti pun terus meneliti dampak lain dari aktivitas manusia untuk memahami hingga sejauh mana manusia telah mengubah ritme alam semesta kita.












