Waspada Modus Penculikan Anak Tiru Suara dengan Teknologi AI
Jakarta, CNBC Indonesia – Ancaman penipuan kini semakin canggih dengan modus menggunakan kloning suara berbasis AI yang mengaku sebagai korban penculikan atau kecelakaan. Para pelaku akan memanfaatkan rekayasa sosial untuk mengecoh korbannya.
Mudahnya Modus Penipuan dengan Kloning Suara AI
Peneliti intelijen ancaman siber dari perusahaan konsultan F-Secure, Megan Squire, menjelaskan bahwa para pelaku hanya membutuhkan 10 detik audio jelas untuk membuat kloning suara. Audio tersebut biasanya diperoleh dari media sosial atau platform berbagi video seperti YouTube.
Squire menegaskan bahwa target penipuan akan menjadi sasaran yang lebih mudah karena para pelaku tidak memerlukan kemampuan detektif untuk melacak informasi pribadi korban. Mereka bahkan mampu mengetahui siapa yang terhubung dengan akun tersebut, sehingga bisa menyamar sebagai orang terdekat korban.
Korban Rentan Kehilangan Uang Akibat Penipuan
Penipuan dengan modus kloning suara AI cenderung membuat korban panik, sehingga memudahkan pelaku untuk mendapatkan keuntungan finansial. Squire juga mencatat bahwa sebagian besar korban penipuan akan diminta untuk membayar sejumlah uang, biasanya dengan menggunakan mata uang kripto.
F-Secure mencatat bahwa sebanyak 56% responden telah mengalami penipuan online setiap bulan, di mana 52% di antaranya mengalami kerugian finansial akibat aksi penipuan tersebut.
Saat mendapatkan telepon mencurigakan terkait anak yang dikabarkan diculik atau kecelakaan, Squire menyarankan untuk tetap tenang dan menindaklanjuti telepon tersebut dengan bijaksana. Kedepankan prinsip skeptisisme dan verifikasi informasi sebelum mengambil tindakan lebih lanjut.
Terlepas dari situasi yang dihadapi, penting untuk tetap menjaga ketenangan dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Selalu pastikan kebenaran informasi sebelum merespons tuntutan atau ancaman dari pihak tidak dikenal.












