BYD Bercita-cita Jadi Raja Mobil Dunia dalam 5 Tahun ke Depan
Jakarta, CNBC Indonesia – Industri otomotif China semakin berkembang pesat, khususnya di sektor mobil listrik (EV). Perusahaan-perusahaan besar seperti BYD, Wuling, dan Chery telah mengambil langkah besar untuk menyaingi raja-raja lama dari Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS).
Chairman BYD, Wang Chuanfu, baru-baru ini mengumumkan target ambisius bagi perusahaan. Dalam 5 tahun ke depan, BYD bertekad menjadi produsen mobil terbesar di dunia.
BYD Hadapi Tantangan di Pasar Domestik
Meski saat ini BYD menempati peringkat ke-6 dalam industri otomotif global dengan penjualan sebanyak 4,6 juta unit mobil, perusahaan ini mengalami tekanan persaingan di pasar domestik. Hal ini mengakibatkan penurunan penjualan sepanjang tahun lalu, mengutip dari Reuters.
Saham BYD mengalami penurunan lebih dari 45% dari posisinya di bursa Hong Kong tahun lalu, sementara sahamnya di bursa Shenzhen turun 33%.
Langkah Strategis BYD untuk Mencapai Target
Wang Chuanfu menyoroti fokus perusahaan pada peningkatan produksi Baterai Blade generasi kedua sebagai hambatan utama pertumbuhan tahun ini. Dalam rapat pemegang saham tahunan perusahaan di Shenzhen, Wang menyatakan bahwa BYD akan mengejar posisi sebagai produsen mobil nomor 1 di dunia dalam 5 tahun mendatang.
BYD telah menunjukkan peningkatan ekspor yang signifikan, dengan pertumbuhan 65% dalam periode Januari-Mei 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Negara-negara seperti Brasil, Inggris, dan Australia menjadi pasar terbesar perusahaan tersebut.
Meskipun BYD mengalami peningkatan penjualan secara global, penjualan domestik di China justru mengalami penurunan sebesar 20% pada periode yang sama.
Untuk mencapai ambisinya, BYD harus mampu bersaing dengan Toyota Motor dari Jepang, yang penjualannya dua kali lipat lebih banyak daripada BYD sepanjang 2025. Toyota sendiri sedang menghadapi berbagai tantangan, terutama di wilayah Asia Tenggara dan Timur Tengah yang mulai dikuasai oleh produsen mobil China.
Pada saat yang sama, saham BYD di Hong Kong dan Shenzhen mengalami penurunan setelah pengumuman Wang Chuanfu, dengan masing-masing turun 4,3% dan 1,6%.












