Berita  

Bahaya Sesar Kendeng: Potensi Gempa M7 di Jawa dan Rute Evakuasi

BMKG: Sesar Kendeng, Ancaman Besar di Pulau Jawa

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi Sesar Kendeng sebagai salah satu zona patahan aktif di Pulau Jawa yang memiliki risiko kebencanaan tinggi. Sesar Kendeng sendiri adalah zona sesar aktif yang membentang dari barat ke timur sepanjang kurang lebih 300 kilometer di utara Pulau Jawa.

Struktur geologi ini menjadi perhatian pemerintah setempat karena melintasi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Peta Bahaya Gempa di Jawa

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang Ricko Kardoso menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap sesar ini sangat diperlukan guna memitigasi dampak guncangan di daratan. Ia menyebutkan struktur patahan tersebut memiliki bentangan yang sangat luas dan membelah banyak kabupaten dan kota.

Patahan tersebut terbagi ke dalam enam segmen utama yang meliputi Segmen Demak, Purwodadi, Cepu, Blumbang yang melintasi Lamongan, hingga Segmen Surabaya yang membelah jantung kota, serta Segmen Waru di Sidoarjo. Secara administratif, rute ancaman ini mencakup wilayah Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, hingga Kota Surabaya.

Aktivitas Seismik dan Kaitannya dengan Gempa

Berdasarkan data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng memiliki potensi memicu gempa bumi dengan kekuatan merusak hingga M7. Meski aktivitas pergerakan sesar ini tergolong lambat, mencapai 5 milimeter per tahun, namun memiliki rekam jejak sejarah yang mencatat gempa dahsyat pada tahun 1836 dan 1837 di Mojokerto dan Jombang.

Selain itu, gempa kuat juga pernah melanda Madiun pada tahun 1862 dan 1915, serta merusak infrastruktur di Surabaya pada 1867. Peningkatan aktivitas seismik terakhir berupa gempa dangkal berskala kecil hingga menengah terjadi di sepanjang rute Sesar Kendeng.

Klarifikasi Posisi Gempa Palu dan Sesar Kendeng

Pakar Geologi ITS Amien Widodo menjelaskan bahwa peristiwa gempa di Palu tidak akan secara langsung mempengaruhi aktivitas sesar di Pulau Jawa. Meskipun sempat viral di media sosial, posisi geografis yang jauh dan arah pergerakan sesar yang berbeda membuat potensi risiko gempa di Jawa tidak terkait dengan gempa di Sulawesi.

Amien menegaskan bahwa pemicu utama aktivitas sesar di Pulau Jawa lebih berkaitan dengan dorongan lempeng samudra di sisi lain daripada aktivitas sesar di wilayah Sulawesi.

Source link