Berita  

Muncul Krisis, Facebook Minta Karyawan Hemat

Meta Minta Karyawan Berhemat dalam Penggunaan AI Google

Jakarta, CNBC Indonesia – Ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah menimbulkan berbagai krisis global. Salah satunya adalah kelangkaan chip memori global yang menyebabkan kenaikan harga perangkat elektronik konsumen. Namun, kini krisis baru muncul di Amerika Serikat (AS) terkait penggunaan AI, yang berdampak pada perusahaan raksasa teknologi seperti Google dan Meta.

Batasan Penggunaan Model AI Gemini oleh Meta

Melansir laporan Financial Times, Google yang merupakan bagian dari Alphabet telah membatasi penggunaan model AI Gemini oleh Meta. Pembatasan ini dilakukan setelah Meta meminta kapasitas komputasi yang melebihi kemampuan yang dapat disediakan oleh Google. Dampak dari kekurangan kapasitas komputasi ini tidak hanya dirasakan oleh Meta, tetapi juga oleh sejumlah pelanggan Google lainnya.

Dilansir dari Reuters, pendapatan Google Cloud pada kuartal I tahun 2026 mencapai US$20 miliar. Meskipun demikian, CEO Google Sundar Pichai mengungkapkan bahwa keterbatasan kapasitas komputasi telah menghambat pertumbuhan perusahaan. Hal ini terbukti dengan antrean atau backlog bisnis unit cloud hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Permintaan Penggunaan Model AI yang Tinggi

Meta disebut sebagai perusahaan yang paling merasakan dampak dari pembatasan penggunaan model AI Google. Perusahaan ini telah meminta para karyawannya untuk berhemat dalam penggunaan token AI, satuan yang digunakan untuk mengukur layanan AI. Hal ini dilakukan karena Meta memiliki permintaan penggunaan model AI yang sangat tinggi.

Seiring dengan terus meningkatnya investasi perusahaan teknologi dalam pengadaan chip dan pembangunan data center, krisis terkait kapasitas komputasi yang memadai untuk layanan AI masih terus berlanjut. Hal ini menjadi tantangan bagi industri teknologi global dalam memenuhi lonjakan permintaan layanan AI yang semakin tinggi.

Dengan adanya pembatasan penggunaan model AI oleh Google, Meta serta perusahaan lainnya diharapkan dapat menemukan solusi untuk mengatasi krisis tersebut demi kelancaran bisnis dan pengembangan teknologi di masa depan.

(fab/fab)

Source link