Mantan Tenaga Ahli Teknologi Asal India Ne’kat Hapus Ratusan Server
Jakarta, CNBC Indonesia – Seorang mantan tenaga ahli teknologi asal India dengan nama Kandula Nagaraju, dilaporkan melakukan aksi nekat dengan motif balas dendam setelah diberhentikan dari perusahaannya. Ia secara ilegal meretas basis data internal mantan perusahaan dan mengakibatkan kerugian finansial masif akibat menyabotase ratusan server virtual.
Latar Belakang dan Motif Pelaku
Mantan pegawai berusia 39 tahun ini berakhir masa kerjanya di NCS, sebuah firma teknologi berbasis di Singapura, sebelum menerobos sistem dengan menggunakan kredensial lama yang belum dicabut. Diketahui bahwa ia merasa tidak adil dengan pemutusan kontraknya dan merasa telah memberikan kontribusi yang baik selama bergabung dengan perusahaan tersebut.
Kontrak Kandula dengan NCS diakhiri pada Oktober 2022 karena kinerja buruk. Setelah kepergiannya, ia kembali ke India tanpa pekerjaan lain di Singapura, hingga pada Februari 2023 ia kembali ke negara tersebut untuk mencari pekerjaan baru dengan menggunakan laptop untuk mengakses sistem NCS secara ilegal.
Aksi Sabotase dan Konsekuensinya
Dalam rentang waktu dua bulan, ia berhasil mengakses sistem dan menghapus total 180 server virtual pada Maret 2023. Hal ini membuat NCS kehilangan dana sebesar S$918.000 atau setara dengan Rp12,8 miliar. Akibat perbuatannya tersebut, Kandula dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan.
Meskipun tidak ada informasi sensitif yang tersimpan dalam server yang dihapusnya, tindakan Kandula menyebabkan kerugian keuangan dan reputasi bagi perusahaan. Selain itu, pelaku juga menunjukkan bahwa akses ilegal ke sistem perusahaan merupakan ancaman serius yang harus diwaspadai.
Intervensi hukum diperlukan untuk menegaskan bahwa tindakan menyabotase dan meretas sistem tidak dapat dibiarkan tanpa konsekuensi. Hal ini juga mengirimkan pesan bahwa keadilan akan ditegakkan terhadap pelanggaran keamanan teknologi, tanpa memandang motif di baliknya.
Semoga kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi perusahaan lain untuk memperkuat sistem keamanan dan pengawasan terhadap mantan pegawai guna menghindari insiden serupa di masa depan.












