Berita  

Kelakuan Bos Meta Terungkap: Drastisnya Instagram Cuan Barang Biadab

Instagram Tuai Kontroversi dengan Konten Kekerasan Anak

Jakarta, CNBC Indonesia – Peredaran konten kekerasan seksual pada anak di platform milik Meta, termasuk Instagram, semakin meresahkan. Bahkan, sebuah investigasi oleh BBC baru-baru ini mengungkap bahwa Instagram ternyata meraup keuntungan dari peredaran materi kontroversial tersebut.

Meta, yang merupakan induk perusahaan dari Instagram, Facebook, dan WhatsApp, telah lama dituduh mengabaikan masalah peredaran konten negatif di platform mereka. Langkah kontroversial Meta untuk menggantikan tim moderator manusia dengan kecerdasan buatan (AI) juga menuai kritik tajam dari berbagai pihak.

AI Gagal Membendung Peredaran Konten Terlarang

BBC melaporkan bahwa Instagram menerima pembayaran dari iklan yang mempromosikan konten kekerasan seksual pada anak di India. Temuan ini mengguncang pemerintah India, yang kemudian memerintahkan Meta untuk segera menghentikan semua iklan dan promosi terkait konten tersebut.

Menurut laporan BBC, iklan yang beredar di Instagram di India termasuk kata-kata kunci seperti “video pemerkosaan” dan “video anak,” yang kemudian mengarahkan pengguna ke kanal Telegram untuk membeli materi tersebut seharga US$ 1 atau sekitar Rp 17 ribu.

Meta dan Kontroversi Konten Kekerasan Anak

Meta sendiri telah memberikan tanggapan terkait laporan BBC ini. Perusahaan menyatakan bahwa telah menonaktifkan iklan yang terkait dengan konten kekerasan seksual pada anak dan menangguhkan akun yang terlibat dalam iklan tersebut.

Eks VP Facebook, Brian Boland, juga turut memberikan pandangannya terkait algoritma Instagram yang cenderung memaksimalkan keuntungan tanpa memprioritaskan pemblokiran konten negatif. Pengakuan Meta ini semakin melemparkan bayangan buruk terhadap praktik bisnis mereka.

Dalam kasus serupa di Amerika Serikat, Meta bahkan sudah terbukti bersalah karena menyebarkan konten kekerasan seksual pada anak. Pernyataan dari jaksa New Mexico yang menyebut Meta membiarkan platformnya digunakan sebagai tempat jual beli anak turut menambah tekanan terhadap perusahaan raksasa tersebut.

Source link