Kelangkaan Chip Memori, Ancaman Baru bagi Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua SK Group, Chey Tae-won, memberikan peringatan serius terkait kelangkaan chip memori yang merupakan elemen penting dalam industri kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, situasi ini dapat menjadi ancaman bagi dunia, dan pemerintah di berbagai negara harus segera mengambil langkah untuk melindungi industri mereka.
Chey juga menyoroti kemungkinan Korea Selatan menghadapi tekanan serupa akibat kelangkaan tersebut. Dia mendorong SK Hynix, perusahaan chip besar asal Korea Selatan, untuk memperluas kapasitas produksinya baik di dalam maupun luar negeri guna mengatasi situasi harga chip yang tidak stabil saat ini.
Permintaan Chip Memori AI Terus Meningkat
Chey mengungkapkan bahwa pelanggan sudah mengajukan permintaan tambahan chip memori AI sebesar 60%-100% untuk tahun 2027 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kontribusi AI yang semakin besar dalam konsumsi global semikonduktor, permintaan total chip diperkirakan akan tumbuh minimal 50%-60%. Namun, pasokan chip belum mampu mengejar lonjakan permintaan tersebut.
Di antara berbagai jenis chip memori, ketersediaan high-bandwidth memory (HBM) menjadi yang paling terasa. HBM merupakan chip DRAM bertumpuk yang banyak digunakan bersama akselerator AI buatan Nvidia.
SK Hynix Berupaya Memperluas Produksi
SK Hynix, yang mendominasi pasar HBM global dengan pangsa 58% berdasarkan pendapatan pada kuartal pertama 2026, tengah fokus memperluas kapasitas produksi. Perusahaan telah mempercepat pembangunan clean room di Yongin dan melakukan investasi tambahan sebesar 21,6 triliun won atau sekitar US$14,52 miliar.
Selain itu, SK Hynix juga sedang mengevaluasi sejumlah lokasi pabrik chip di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, untuk ekspansi produksi. Meski demikian, Chey menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan bisnis, bukan sebagai respon terhadap tuntutan pemerintah AS.
Meskipun demikian, Chey menyadari bahwa harga chip yang terus tinggi dapat berdampak negatif bagi produsen Korea Selatan. Ia menekankan pentingnya normalisasi harga chip untuk mencegah kemungkinan inflasi chip serta tekanan geopolitik yang bisa muncul akibat situasi ini.












