Mengungkap Realitas Kerja di Perusahaan Teknologi Raksasa
Jakarta, CNBC Indonesia – Pada tahun 2018, sekitar 20.000 karyawan Google di seluruh dunia melakukan aksi mogok massal sebagai bentuk protes terhadap penanganan kasus pelecehan seksual dan kebijakan internal yang dianggap tidak adil. Aksi ini dipimpin oleh Claire Stapleton, yang kini mengungkap kisahnya dalam memoar berjudul Don’t Be Evil: Bad Bosses, Fake Promises, and My Escape from Big Tech.
Sepanjang kariernya di Google, Stapleton melihat perubahan signifikan dalam budaya perusahaan, terutama setelah era kepemimpinan Larry Page yang dimulai pada tahun 2011. Meskipun Google memiliki narasi besar untuk menyelesaikan masalah dunia, Stapleton menyoroti bahwa perusahaan mulai kehilangan fokus pada inovasi dan lebih banyak terlibat dalam persaingan dengan kompetitor.
Tokoh Penting Dalam Google
Berawal dari masa bergabungnya dengan Google setelah lulus kuliah pada tahun 2007, Stapleton merasakan kesempatan emas untuk berkarir. Namun, perasaan itu berubah ketika ia dipindahkan ke Google Creative Lab di New York. Lingkungan kerja di sana ia gambarkan sebagai kombinasi antara dunia ideal dan mengerikan yang memaksakan optimisme teknologi.
Dalam memoarnya, Stapleton juga menyentuh sisi personalnya terkait kematian kakaknya, Scott, pada tahun 2008. Kehilangan ini, ditambah dengan tuntutan kinerja tinggi di Google, membuatnya semakin tenggelam dalam pekerjaan sebagai bentuk pelarian dari kesedihan.
Bersiaplah untuk Melihat Realitas di Balik Perusahaan Teknologi Besar
Melalui bukunya, Stapleton berharap dapat membongkar ilusi yang dibangun oleh industri raksasa teknologi selama ini, serta mendorong para pekerja di sektor teknologi untuk menjadi lebih kritis terhadap kekuatan korporasi besar. Kisahnya memberikan sudut pandang yang tajam dan informatif tentang realitas di balik gemerlapnya perusahaan teknologi terkemuka.












