China Manfaatkan Teknologi AI untuk Menghadapi Bencana Topan Dolphin
Jakarta, CNBC Indonesia – China menghadapi bencana besar Topan Dolphin dalam beberapa hari terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran serius terhadap potensi kerugian ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga keselamatan jutaan warga di wilayah pesisir China.
Di tengah kekhawatiran tersebut, China bergerak cepat memanfaatkan model prakiraan cuaca berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem canggih tersebut berdampingan dengan sistem prakiraan cuaca tradisional. Hal ini menegaskan kemunculan China sebagai pemain utama dalam persaingan meningkatkan akurasi prakiraan cuaca.
Pemanfaatan Teknologi AI dalam Meningkatkan Prakiraan Cuaca
Sistem yang dikembangkan China, termasuk Fengwu buatan Shanghai AI Laboratory, Pangu milik Huawei, dan Fuxi dari Universitas Fudan, termasuk dalam segelintir model prakiraan cuaca berbasis AI yang menurut para peneliti dapat menghasilkan prakiraan jauh lebih cepat daripada sistem konvensional, sembari menyamai atau bahkan melampaui sistem lama tersebut dalam beberapa tolok ukur akurasi.
Selama puluhan tahun, prakiraan cuaca mengandalkan model numerik yang dijalankan pada komputer super untuk mensimulasikan fisika atmosfer. Sebaliknya, model AI mempelajari pola dari arsip besar data pengamatan cuaca historis dan dapat menghasilkan prakiraan dalam waktu singkat.
Masyarakat Butuh Informasi Akurat
Fengwu menarik perhatian setelah para pengembangnya melaporkan bahwa sistem ini mengungguli GraphCast pada sekitar 80% variabel cuaca yang dievaluasi, serta mampu memperpanjang prakiraan jangka menengah global yang akurat hingga lebih dari 10 hari. “Dengan makin seringnya cuaca ekstrem, masyarakat membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun masyarakat awam, petani, dan nelayan,” ujar Sun Zhi, CTO Techwind.
Sementara model AI telah mampu memprediksi jalur topan dengan akurat, masih terdapat keterbatasan dalam memprediksi intensitas badai dan fenomena iklim besar. Meski demikian, penggunaan kedua metode secara berdampingan diperkirakan akan terus dilakukan dalam menghadapi bencana alam di masa depan.












