Penangkapan Ikan dengan Bom di Perairan Indonesia Masih Marak
Jakarta, CNBC Indonesia – Aktivitas penangkapan ikan menggunakan bom ternyata masih marak terjadi di perairan Indonesia. Sebuah studi terbaru mengungkapkan, ledakan bom terjadi rata-rata setara dengan satu kali setiap 62 menit. Para peneliti menemukan aktivitas tersebut setelah memasang mikrofon bawah laut di sejumlah titik di Kepulauan Sangkarrang yang juga dikenal dengan Kepulauan Spermonde yang terletak di perairan di barat Sulawesi, Indonesia. Mereka kemudian menggunakan teknologi machine learning untuk mendeteksi suara ledakan bom di area laut yang luas. Hasil pemantauan tersebut menunjukkan skala pengeboman yang mengkhawatirkan. Mikrofon merekam 3.570 ledakan bom dari 3.650 jam rekaman audio. Jika angka tersebut diproyeksikan selama satu tahun penuh, peneliti memperkirakan aktivitas pengeboman bisa mencapai sekitar 8.500 kali, atau setara dengan satu ledakan setiap 62 menit.
Metode Blast Fishing
Penangkapan ikan dengan bom atau blast fishing dilakukan dengan melemparkan bahan peledak ke dalam air. Ledakan tersebut menghasilkan gelombang kejut yang dapat membunuh ikan dalam jumlah besar secara cepat. Namun, metode ini juga menghancurkan habitat bawah laut, terutama terumbu karang. Terumbu karang mencakup kurang dari 1% dasar laut dunia. Meski begitu, ekosistem tersebut menjadi habitat bagi lebih dari 25% spesies laut.
Kerusakan akibat satu ledakan pun dapat berlangsung sangat lama. Para ilmuwan menilai teknologi pendeteksi suara dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi persoalan pengeboman dan melindungi terumbu karang. Dengan mengetahui lokasi yang paling sering menjadi sasaran pengeboman, konservasionis dan masyarakat setempat dapat memusatkan upaya perlindungan serta mencari alternatif mata pencaharian bagi nelayan.
Upaya Pemulihan Terumbu Karang
Upaya memulihkan terumbu karang mulai menunjukkan hasil. Program restorasi terumbu karang menggunakan struktur baja berbentuk reef stars yang dilapisi pasir terumbu karang berhasil meningkatkan tutupan karang di lokasi restorasi dari kurang dari 5% menjadi lebih dari 80%. Williams menyebut Kepulauan Spermonde menjadi lokasi salah satu program restorasi terumbu karang terbesar di dunia. Meski demikian, restorasi membutuhkan biaya besar dan langkah terpenting tetap mencegah kerusakan sejak awal dengan mengatasi praktik penangkapan ikan menggunakan bom dan menciptakan pilihan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation.












