Berita  

Gempa Megathrust dan Tsunami: Pesisir Pangandaran Tertimpa Tsunami 8 Meter

Mekanisme Pembentukan Tsunami Pangandaran 2006 Lebih Kompleks

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kajian tentang mekanisme pembentukan tsunami Pangandaran 2006. Penelitian ini mengungkap kemungkinan bahwa mekanisme pembentukan tsunami tersebut lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami. Selain dipicu oleh gempa bumi, tsunami juga diduga dipengaruhi oleh pergerakan massa bawah laut yang memperkuat pembentukan gelombang dan mempercepat kedatangan tsunami di pesisir.

Penjelasan PRLD BRIN Mengenai Tsunami Pangandaran

Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, menyampaikan bahwa tsunami Pangandaran merupakan contoh tsunami earthquake. Hal ini merujuk pada kondisi di mana gelombang tsunami yang terjadi jauh lebih besar daripada yang diperkirakan berdasarkan parameter gempa yang terdeteksi.

Menurut penelitian yang dilakukan, tinggi gelombang tsunami di beberapa lokasi mencapai lebih dari 8 meter, bahkan melampaui ketinggian pohon kelapa di sejumlah wilayah pesisir. Setelah melalui investigasi dan analisis, ada potensi bahwa faktor-faktor non-seismik juga berkontribusi pada peningkatan tinggi tsunami di daratan.

Simulasi dan Temuan Selama Penelitian

Tim peneliti melakukan simulasi menggunakan data batimetri, topografi, katalog gempa historis, dan data observasi lapangan. Hasil evaluasi terhadap 14 skenario menunjukkan bahwa model yang menggabungkan sumber gempa dengan pergerakan massa bawah laut memiliki tingkat kesesuaian tertinggi dengan hasil observasi lapangan.

Simulasi juga menunjukkan bahwa keberadaan pergerakan massa bawah laut dapat mempercepat kedatangan tsunami. Selain itu, tsunami tidak hanya menghantam kawasan pantai, tetapi juga memasuki daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap, memperluas wilayah terdampak.

Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan mendukung pengembangan sistem mitigasi bencana yang lebih akurat. BRIN berencana untuk melanjutkan riset bahaya kelautan dengan mengembangkan prototipe sistem pemantauan tsunami yang lebih terjangkau.

Source link