Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur, Bali Terungkap
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dugaan penyebab ilmiah di balik fenomena kematian massal ikan di Danau Batur, Bali, yang terjadi pada akhir Juli 2026. BRIN menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan fenomena pencampuran kolom air danau, yakni proses alami ketika massa air dari lapisan dasar naik dan bercampur dengan air di permukaan.
Oksigen Terlarut Turun, Bau Hidrogen Sulfida Terdeteksi
Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, tim peneliti menemukan bahwa kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di permukaan danau turun hingga mendekati 0 mg/L saat kejadian. Pada saat yang sama, tim juga mencium bau menyengat hidrogen sulfida (H₂S), yang mengindikasikan bahwa air dari lapisan dasar danau telah terangkat ke permukaan.
Peneliti biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Sulung Nomosatryo, menjelaskan bahwa secara alami lapisan dasar danau memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah karena proses dekomposisi bahan organik berlangsung dalam waktu lama. Pada lapisan tersebut juga dapat terakumulasi senyawa sulfida.
Sulung mengatakan, ketika terjadi pencampuran massa air, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke permukaan dan membawa sulfida ke habitat ikan. Dalam kondisi tertentu, sulfida dapat berubah menjadi hidrogen sulfida (H₂S), yaitu bentuk yang paling beracun bagi ikan.
Penelitian Terkait Karakteristik Danau Batur
Keberadaan bau H₂S menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, pihaknya tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan.
“Diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian ini dapat dipahami secara utuh,” ujar Sulung, dalam keterangan resmi BRIN, dikutip Selasa (4/8/2026).
Sementara itu, peneliti hidrodinamika danau BRIN, Arianto Budi Santoso, menjelaskan bahwa karakter Danau Batur sebagai danau vulkanik yang berada di dekat Gunung Batur menyebabkan kandungan senyawa sulfur di danau tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan banyak danau lainnya.
Menurut Arianto, pada kondisi tanpa oksigen (anoksik), senyawa sulfat di dasar danau akan berubah menjadi sulfida. Ketika proses pencampuran air terjadi, sulfida tersebut naik ke lapisan yang mengandung oksigen dan mengalami proses oksidasi kembali menjadi sulfat. Proses tersebut turut mengonsumsi cadangan oksigen terlarut di dalam danau.
“Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni-Agustus, akhir Desember, dan Februari,” jelas Arianto.
Jadi, fase ini mempercepat penurunan oksigen yang dapat membahayakan ikan dalam danau tersebut.












