Gunung Api Anak Krakatau Meletus, Erupsi Besar Picu Sebaran Abu Vulkanik
Jakarta, CNBC Indonesia – Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengungkapkan analisis terkait aktivitas erupsi eksplosif Gunung Api Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik dalam skala besar.
Erupsi Gunung Api Anak Krakatau terjadi sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi dengan aktivitas yang meningkat sejak Juli 2026. Dalam unggahan pribadinya, Erma membagikan pantauan citra satelit yang menunjukkan kolom awan tebal dari letusan gunung tersebut mengarah ke barat hingga Pulau Enggano dengan jangkauan mencapai 851 kilometer.
Skala Letusan dan Dampaknya
Volume material yang teramati secara visual menunjukkan skala letusan yang signifikan. Simulasi atmosfer menunjukkan kolom letusan yang mencapai ketinggian 13-14 kilometer, bahkan menyentuh lapisan tropopause. Hal ini memungkinkan material vulkanik tersebar ke atmosfer yang lebih tinggi.
Erma juga mencatat bahwa meskipun sebaran utama mengarah ke barat, dinamika cuaca lokal seperti tekanan rendah di Banten dan angin laut kuat berpotensi mempengaruhi sebaran awan piroklastik ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.
Erupsi Gunung Api Anak Krakatau telah berdampak pada penutupan Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 09:30 WIB dengan 22.798 penumpang terdampak. Selain masalah operasional penerbangan, erupsi ini juga memiliki dampak alami pada iklim global.
Dampak Terhadap Iklim Global
Pertama, awan abu panas dari erupsi mengandung sulfur oksida yang dapat bertindak sebagai inti kondensasi awan, potensial memicu kondensasi hujan jika disertai pasokan uap air yang memadai. Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan.
Kedua, pelepasan sulfur ke atmosfer dari erupsi memiliki efek pendinginan global. Partikel aerosol sulfur dapat memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa, membantu meredam pemanasan global.
Dengan demikian, erupsi Gunung Api Anak Krakatau tidak hanya memiliki dampak lokal yang signifikan, tetapi juga memberikan efek pada iklim global melalui berbagai mekanisme alaminya.












