Berita  

Erupsi Krakatau di Lukisan Terkenal: Sorotan Media Asing




Erupsi Gunung Krakatau: Inspirasi Lukisan Terkenal

Erupsi Gunung Krakatau: Fenomena Alami yang Menginspirasi Seni Lukis Terkenal

Jakarta, CNBC Indonesia – Akhir pekan lalu, erupsi Anak Gunung Krakatau terjadi. Abu vulkaniknya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk Lampung hingga Jakarta. Letusan ini membawa kembali kenangan akan letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Kisah Letusan Gunung Krakatau 1883

Pada tahun 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan yang luar biasa. Letusan ini terjadi pada tanggal 27 Agustus dan diperkirakan setara dengan bom berkekuatan 200 megaton. Abu vulkanik yang dihasilkan menyebar ke langit, mengubah warna langit secara dramatis.

Inspirasi Lukisan Terkenal

Peristiwa erupsi Gunung Krakatau pada tahun 1883 memberikan inspirasi bagi para seniman untuk menciptakan karya-karya seni yang terkenal. Lukisan The Scream karya Edvard Munch dan gaya lukisan Monet, Manet, Van Gogh, hingga Renoir, dipengaruhi oleh perubahan warna langit yang diakibatkan oleh letusan Gunung Krakatau.

Warna langit yang berubah, mulai dari merah menyala hingga hijau giok, memberikan kesan yang kuat bagi para seniman tersebut. Selain itu, efek dari letusan tersebut juga membuat Bulan yang biasanya tampak perak menjadi tampak biru selama berbulan-bulan setelah peristiwa letusan.

The New York Times yang terbit pada bulan November 1883 bahkan menuliskan, “Setelah jam 5 pagi, cakrawala di barat seperti terbakar warna merah menyala. Orang-orang di jalan tertegun melihat pemandangan tidak biasa. Awan yang berwarna gelap makin lama berubah menjadi warna merah darah, begitu juga laut.”

Dampak Letusan Gunung Krakatau

Selain mempengaruhi seni lukis, letusan Gunung Krakatau tahun 1883 juga meninggalkan dampak yang besar. Semburan material vulkanik menghancurkan 165 desa serta menewaskan 36 ribu orang. Gelombang tsunami yang dihasilkan juga menyebabkan ribuan korban jiwa di wilayah Sumatra.

Selain itu, letusan Gunung Krakatau juga terdengar sangat keras hingga mencapai 310 desibel. Kabarnya, suara letusan ini membuat orang yang berjarak 64 kilometer menjadi tuli akibat kekuatan gelombang suaranya.

Suhu rata-rata global juga turun sebesar 0,6 derajat Celcius selama beberapa bulan setelah letusan. Hal ini disebabkan karena abu dan gas vulkanik yang menutupi atmosfer menghalangi cahaya Matahari, mengakibatkan pendinginan global yang signifikan.

Penutup

Peristiwa letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 merupakan salah satu peristiwa alam yang memiliki dampak jangka panjang, tidak hanya bagi lingkungan fisik, tetapi juga bagi seni dan budaya. Pengaruhnya terhadap seni lukis terkenal hingga saat ini menjadi bukti bahwa keajaiban alam memiliki daya tarik yang tak terbantahkan.

(dem/dem)


Source link