Menghadapi Perang Modern dengan Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi

Peringatan Farrell dan Newman (2019) tentang bahaya arus keuangan, informasi, dan barang yang menyeberangi batas negara kini semakin nyata. Interkoneksi global menghadirkan risiko baru bagi kedaulatan negara sekaligus membuka peluang baru untuk mengelola risiko tersebut secara strategis. Konflik yang terjadi di Ukraina dan Iran kini menjadi cermin dinamika tersebut: kedua perang itu memperlihatkan secara langsung bagaimana jaringan global yang saling terkait membuat gangguan lokal membesar menjadi dampak internasional.

Pada kasus Ukraina, dunia disadarkan oleh efek perang yang merusak rantai pasok pangan global. Ketidakstabilan distribusi bahan pangan, akibat terputusnya jalur laut utama, telah mendorong terjadinya kekurangan pangan di berbagai negara, terutama di kawasan yang sangat tergantung pada ekspor gandum dan bahan pangan dari kawasan Laut Hitam. Sementara itu, Perang Iran menimbulkan gangguan pada stabilitas pasokan energi dunia. Serangan terbatas terhadap kapal dan perangkat energi di sekitar Selat Hormuz telah menyebabkan risiko melonjak, sehingga banyak perusahaan pelayaran menunda operasi mereka demi menghindari bahaya yang lebih besar. Hanya dengan meningkatnya risiko dan premi asuransi, laju arus minyak anjlok drastis—sebuah contoh nyata bagaimana keputusan komersial demi keselamatan dapat menimbulkan efek strategis berjangka panjang.

Efek domino dari gangguan ini tidak berhenti pada distribusi. Dalam kasus Ukraina, pemblokiran pelabuhan menyebabkan pengalihan ekspor pertanian ke jalur darat atau sungai yang kapasitasnya jauh lebih kecil. Hal ini menghambat distribusi hingga akhirnya juga mengganggu tingkat produksi di negara-negara lain yang bergantung pada pupuk dari Rusia dan Belarus. Ketidakstabilan pada simpul rantai pasok, bahkan sebelum mencapai konsumen akhir, sudah cukup memukul sistem pangan dan energi di tingkat global.

Jaringan ekonomi global memang menyebar luas, tapi selalu ada titik konsentrasi yang tak mudah digantikan. Bila satu simpul utama mengalami masalah, seluruh jaringan dapat terganggu. Farrell dan Newman menyebut hal ini sebagai “chokepoint effect”, yakni kemampuan untuk memanfaatkan simpul kritis sebagai alat pengendali ekonomi dan politik. Tidak hanya wilayah fisik seperti selat dan pelabuhan, tetapi juga jaringan keuangan, asuransi, perangkat lunak, semikonduktor, hingga kekayaan intelektual dapat menjadi titik rawan baru. Fishman (2025) telah menunjukkan bagaimana jaringan digital dan keuangan kini kerap dijadikan alat untuk memblokir aliran barang dan jasa di masa konflik, baik lewat sanksi maupun teknologi.

Meskipun bentuk perang tradisional belum berubah—berdasarkan pemahaman Clausewitz—cara penyebarluasan efek perang kini telah jauh melampaui garis depan. Negara non-peserta perang pun bisa terdampak hebat, apabila sistem-sistem logistik, energi, pangan, dan keuangan global terganggu oleh konflik regional. Indonesia, yang bergantung pada impor energi dan pangan, rentan terhadap hancurnya titik distribusi di kawasan lain. Tanpa ikut berperang, Indonesia tetap menghadapi risiko kekurangan suplai dan lonjakan harga akibat efek jangka menengah dan panjang dari konflik jarak jauh.

Oleh karena itu, pertahanan sebuah negara tidak semata-mata tentang kemampuan militer konvensional. Kalkulasi pertahanan masa kini harus melampaui soal kekuatan persenjataan dan potensi serangan langsung, dengan memperhatikan apakah fungsi-fungsi vital dalam negeri—energi, pangan, komunikasi, transportasi—akan tetap aman jika rantai pasok global terganggu. Misalnya, bila terjadi perang di wilayah lain yang memutuskan jaringan kabel bawah laut atau menggangu pasokan bahan bakar, kemampuan pertahanan dan kesiapan Indonesia akan ikut terancam.

Strategi pertahanan kini menuntut identifikasi simpul-simpul kritis seperti pelabuhan, jalur energi, pusat data, jaringan distribusi, hingga infrastruktur keuangan dan komunikasi. Perlindungan harus didahulukan pada elemen-elemen yang jika terganggu akan menyebabkan seluruh sistem lumpuh. Redundansi, cadangan, dan ketersediaan alternatif distribusi menjadi kunci agar negara tetap bisa bekerja di tengah ketidakpastian. Ketahanan sektor pangan, energi, dan teknologi tidak cukup hanya dengan swasembada jika masih ada ketergantungan terhadap impor input ataupun distribusi tunggal yang terpusat. Yang dibutuhkan adalah kemampuan sistemik untuk menjaga fungsi esensial tetap berjalan meskipun ada gangguan besar di titik-titik rawan.

Contoh nyatanya, kehidupan ekonomi dan pertahanan di Indonesia sebagai negara kepulauan sangat tergantung pada stabilitas konektivitas antarpulau, pelabuhan, distribusi pangan dan energi, sistem pembayaran, serta infrastruktur digital. Kerentanan Indonesia tersebar pada banyak titik yang perlu diwaspadai, bukan hanya selat-selat utama, tetapi juga di pelabuhan, terminal energi, gudang pangan, dan kabel bawah laut. Pelajaran kunci dari konflik Ukraina dan Iran justru terletak pada pentingnya memahami bagaimana titik-titik ketergantungan global bisa berubah menjadi kerentanan besar saat perang merebak. Ketahanan nasional menuntut kesiapan tidak hanya menghadapi serangan terbuka, tetapi juga menghadapi kemungkinan terhentinya fungsi-fungsi kritis akibat konflik di luar negeri.

Persoalannya bukan melepas diri dari jaringan global, tapi mengembangkan ketahanan fungsional—membangun sistem yang mampu bertahan saat simpul kritis gagal, baik lewat perlindungan, pengganti, maupun mekanisme pemulihan cepat. Indonesia harus terus waspada, mengidentifikasi titik rawan yang sukar digantikan dan menentukan seberapa lama negara mampu bertahan jika fungsi vital itu terganggu.

Dengan berkembangnya tantangan ini, harapan generasi muda Indonesia tidak boleh terputus. Seperti seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter, namun sumber belajarnya terbatas, negara juga harus memastikan agar akses pada sumber daya vital tetap terbuka tak peduli guncangan eksternal yang terjadi. Upaya menjaga ketahanan nasional berarti memperjuangkan masa depan yang kokoh bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas