Berita  

Bencana RI Disebut Akibat Ulah Amerika, Ini Fakta Pakar

HAARP kembali dikaitkan dengan rangkaian erupsi gunung berapi di Indonesia. Namun, tudingan bahwa fasilitas penelitian di Alaska, Amerika Serikat, itu dapat memicu letusan dibantah oleh anggota IABI, Daryono. Ia menegaskan aktivitas vulkanik tersebut berasal dari dinamika alami di dalam Bumi, bukan rekayasa teknologi.

Menurut Daryono, energi yang menggerakkan erupsi berasal dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Skala energi dan kedalaman proses itu membuat letusan gunung api tidak mungkin dibangkitkan atau dikendalikan menggunakan teknologi buatan manusia.

“Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian. Dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun,” kata Daryono melalui akun resmi X miliknya.

Fungsi HAARP dan kemampuan instrumennya

HAARP merupakan singkatan dari High Frequency Active Auroral Research Program. Berdasarkan penjelasan University of Alaska Fairbanks, HAARP adalah program penelitian yang dirancang untuk mempelajari ionosfer.

Salah satu fasilitas yang dikembangkan dalam program tersebut ialah Ionospheric Research Instrument (IRI), sebuah pemancar berdaya tinggi yang bekerja dalam rentang frekuensi tinggi. Instrumen itu dapat mengaktifkan area terbatas pada ionosfer untuk sementara waktu demi kepentingan studi ilmiah.

IRI terdiri atas 180 antena menara HF yang ditempatkan di lahan seluas 33 hektar. Fasilitas tersebut mampu memancarkan daya sebesar 3,6 megawatt ke atmosfer bagian atas dan ionosfer. HAARP juga memiliki sejumlah instrumen ilmiah atau diagnostik untuk mengamati proses fisik yang berlangsung di wilayah tersebut.

Pengoperasian fasilitas HAARP kini berada di bawah University of Alaska Fairbanks. Menurut laman Uarctic, pengelolaannya dialihkan dari Angkatan Udara Amerika Serikat pada 11 Agustus 2015. Pengalihan itu memungkinkan penelitian mengenai fenomenologi ionosfer dilanjutkan melalui perjanjian kerja sama penelitian dan pengembangan penggunaan lahan.

Erupsi dipicu tekanan magma

Daryono menjelaskan, erupsi terjadi ketika magma bergerak naik karena gaya apung. Pergerakan tersebut berkaitan dengan densitas magma yang lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya, disertai akumulasi tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

Tekanan di dalam kantong magma, menurut dia, dapat mencapai ratusan megapascal. Kondisi itu tidak dapat diubah secara sengaja menggunakan gelombang elektromagnetik ataupun ledakan buatan manusia.

“Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal, sehingga TIDAK ADA TEKNOLOGI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK MAUPUN LEDAKAN BUATAN MANUSIA YANG SANGGUP menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja,” ujarnya.

Aktivitas vulkanik yang intensif dan terjadi secara beruntun di Indonesia, kata Daryono, berkaitan dengan posisi wilayah ini di jalur Cincin Api. Indonesia juga menjadi kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama dunia.

Source link