Berita  

Krisis Besar di Depan Mata, Amerika Takut pada China

Perdebatan mengenai perlu tidaknya memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mengeras di Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap dampak negatif AI bagi masyarakat berhadapan dengan kepentingan Washington untuk mempertahankan keunggulan teknologi dan keamanan nasional dalam persaingan dengan China.

Presiden AS Donald Trump menolak gagasan moratorium terhadap pengembangan AI lanjutan. Sikap serupa disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Mike Johnson. Menurut Johnson, inovasi harus terus berjalan karena penghentian pengembangan AI dapat membuat Amerika Serikat kehilangan posisi strategisnya dari China.

Johnson: AI Tidak Bisa Dimoratorium

Johnson mengatakan perusahaan teknologi memiliki kemampuan untuk mengatur langkah mereka sendiri tanpa harus menunggu pemerintah memerintahkan perlambatan. “Mereka bisa mengatur diri sendiri. Mereka tidak membutuhkan pemerintah untuk memberi tahu mereka agar memperlambatnya. Jika mereka ingin memperlambatnya, mereka harus melakukannya,” ujar Johnson, dikutip dari Reuters, Kamis (17/9/2026).

Ia menegaskan, moratorium bukan pilihan bagi Amerika Serikat karena persaingan teknologi dengan China memiliki konsekuensi langsung terhadap keamanan nasional.

“Kita tidak bisa melakukan moratorium terhadap pengembangan AI, oke? Karena kemudian kita akan kehilangan keunggulan kita dari China, dan itu memiliki implikasi serius terhadap keamanan nasional bagi setiap keluarga Amerika,” kata Johnson.

Johnson memperkirakan isu AI akan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada akhir September. Ia menyebut kedua negara perlu terus memantau perkembangan masing-masing serta membangun komitmen bersama.

“Saya yakin mereka perlu terus memantau dan membuat komitmen satu sama lain,” ujarnya.

Ia juga menolak pembentukan badan lintas negara yang secara khusus bertugas mengatur perkembangan AI. Namun, penolakan terhadap moratorium tidak berarti Johnson menganggap teknologi tersebut tidak memerlukan pengawasan.

Menurut dia, tata kelola AI harus dirancang secara seimbang agar keselamatan publik tetap diperhatikan tanpa menghentikan inovasi. Johnson mengusulkan audit independen, transparansi dari pengembang, serta sejumlah mekanisme pengaman.

“Saya pikir Anda membutuhkan auditor independen. Saya pikir Anda membutuhkan transparansi dari orang-orang yang mengembangkan ini. Saya pikir ada beberapa ide yang sangat penting yang bisa menjadi pagar pengaman,” kata Johnson.

Pelaku Industri Soroti Risiko Perlombaan AI

Johnson mengungkapkan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan Trump pada Senin malam. Pemerintah AS, kata dia, berencana mengundang para pimpinan perusahaan penyedia AI terkemuka ke Gedung Putih dalam sepekan ke depan untuk membahas arah perkembangan teknologi tersebut.

Sementara itu, sejumlah politikus Demokrat sejalan dengan kekhawatiran para pemimpin perusahaan teknologi yang meminta pengembangan AI diperlambat demi memprioritaskan keamanan masyarakat.

CEO Anthropic Dario Amodei pada akhir pekan lalu mengusulkan kerangka kerja tiga tahap untuk memperlambat pengembangan model AI perbatasan guna mengurangi risikonya. Proposal tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.

Namun, Amodei mengakui bahwa persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China merupakan hambatan terbesar bagi usulannya. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyebutnya sebagai “dilema paling sulit”.

“Insentif untuk unggul dan keunggulan militer yang didapat dari AI sangat besar, sehingga kemampuan untuk memverifikasi apakah pihak lawan berbuat curang harus sangat absolut,” ujar Amodei. Ia menambahkan, proses tersebut dapat memerlukan waktu bertahun-tahun dan belum tentu bisa dilakukan.

Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic yang mengundurkan diri dan memperingatkan bahaya AI, mendesak Washington tidak mengambil langkah sendirian. “Kita butuh koordinasi internasional, kalau tidak, kita hanya akan mengulang perlombaan senjata yang sama dengan China, dan itu sama-sama berbahaya,” kata Coxon.

Source link