Bumi kehilangan lebih dari 12,5 triliun ton es dari Greenland dan Antarktika selama 47 tahun terakhir. Volume tersebut setara dengan menutupi seluruh daratan Amerika Serikat menggunakan lapisan es setebal 1,5 meter. Pencairan itu telah mendorong kenaikan muka laut global dan meningkatkan ancaman banjir bagi jutaan penduduk pesisir, termasuk di Indonesia.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Data. Para peneliti menggabungkan data dari 27 satelit dan 45 survei independen, sehingga menghasilkan salah satu rangkaian pengamatan paling lengkap mengenai perubahan es di kawasan kutub utara dan selatan.
Pencairan dipicu air laut yang menghangat
Penelitian itu menyimpulkan bahwa laju pencairan es terus meningkat dari tahun ke tahun. Sekitar lima per enam bagian pencairan terjadi karena air laut yang lebih hangat mengikis lapisan es dari bawah dan samping, bukan semata-mata akibat udara panas di permukaan.
“Ini berbahaya karena proses ini jauh lebih sulit dihentikan,” kata Ines Otosaka, peneliti utama dari Universitas Northumbria, Inggris. Menurut dia, es mencair dari bagian yang tidak terlihat dan alirannya semakin cepat menuju laut.
Salah satu gletser di Greenland bahkan dilaporkan mundur hingga 50 meter setiap hari. Kecepatan tersebut membuat garis pantai yang tertutup es menyusut dengan lebar kira-kira setara lapangan sepak bola dalam sehari.
Sejak 1979, pencairan es telah berkontribusi terhadap kenaikan muka laut global sekitar 3,1 sentimeter. Setiap kenaikan 1 sentimeter diperkirakan membuat tambahan 2 juta hingga 3 juta orang di seluruh dunia mengalami banjir sedikitnya sekali dalam setahun. Kenaikan muka laut juga memperparah pasang, memperkuat gelombang badai, serta mempercepat kerusakan garis pantai.
Para ilmuwan sempat mencatat jeda pencairan pada 2020-2023. Namun, periode tersebut dinilai hanya sebagai gangguan cuaca jangka pendek, bukan tanda pemulihan. Pengamatan terbaru kembali menunjukkan peningkatan laju pencairan.
“Kita sudah mengetahui bahayanya, namun belum cukup bijaksana untuk bertindak sepenuhnya,” ujar ilmuwan kutub Ted Scambos, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut. “Ancaman itu sudah ada di depan mata, bukan untuk cucu kita, melainkan untuk kita sendiri.”
Pantura menghadapi ancaman berlapis
Indonesia menghadapi risiko yang lebih besar karena memiliki ribuan pulau dan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Erosi di sejumlah pulau kecil, termasuk wilayah perbatasan dan kepulauan terluar, dilaporkan berlangsung semakin cepat. Kota pesisir rendah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar juga menghadapi ancaman banjir rob serta pencemaran air tanah akibat intrusi air laut.
Di Pantai Utara Jawa, kenaikan muka laut tercatat sekitar 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Wilayah yang menghadapi kondisi tersebut antara lain Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, dan Demak.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, mengatakan pemantauan dilakukan melalui berbagai metode geodesi dan penginderaan jauh. Teknologi yang digunakan meliputi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan terestris, serta pemodelan geospasial multidata.
Data dari Indonesia Continuously Operating Reference Station (InaCORS), kata Agung, memperlihatkan deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura. Data GNSS tersebut digunakan untuk memvalidasi hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR).
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyebut kondisi Pantura Jawa sudah memprihatinkan. Dalam pertemuan pada Senin (4/5/2026), yang dihadiri sejumlah pejabat, lembaga, dan kepala daerah, AHY mengatakan penurunan tanah di kawasan itu mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun. Pada saat yang sama, muka air laut naik sekitar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun.
“Ini mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti, merusak rumah-rumah warga dan lain-lain,” kata AHY. Ia memperingatkan, tanpa intervensi serius, penggenangan air laut di Pantura pada 2050 dapat menjadi jauh lebih parah dan memperbesar ancaman krisis air bersih bagi masyarakat pesisir.












