Dua ponsel yang mengeluarkan asap dari dalam tas penumpang KRL di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, Kamis (17/9/2026), kembali mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda kerusakan baterai perangkat elektronik. Insiden tersebut menyoroti risiko pada ponsel dan laptop yang menggunakan baterai litium-ion.
Kemungkinan perangkat meledak memang sangat kecil. Namun, sebagian besar kasus bermula dari gangguan pada sistem baterai yang tidak terdeteksi sejak awal. Kerusakan dapat berkembang menjadi panas berlebih dan memicu kebakaran.
Tanda perangkat mulai berbahaya
Suhu perangkat yang meningkat drastis, bahkan ketika hanya menjalankan aplikasi ringan atau sedang tidak digunakan, patut dicurigai. Kondisi tersebut dapat menandakan masalah serius pada sel baterai, termasuk korsleting mikro yang berpotensi memicu reaksi berantai.
Perubahan fisik juga tidak boleh diabaikan. Bodi ponsel yang menggembung, layar terangkat, sambungan yang terbuka, atau bagian laptop yang melengkung dapat terjadi akibat gas yang terperangkap di dalam baterai. Perangkat seperti ini tidak boleh ditekan atau dipaksa kembali ke bentuk semula karena tindakan tersebut dapat memperparah kerusakan.
Tanda lain adalah munculnya bau kimia yang menyengat, seperti aroma asam, logam terbakar, atau uap bahan kimia dari sela perangkat. Bau tersebut dapat mengindikasikan kebocoran elektrolit. Jika muncul asap atau percikan api, perangkat harus segera dijauhkan dari tubuh dan dipindahkan ke tempat terbuka karena waktu untuk bereaksi bisa sangat singkat.
Gangguan saat mengisi daya juga menjadi peringatan. Baterai yang cepat kehilangan daya, tidak dapat terisi penuh, atau tiba-tiba berhenti mengisi kemungkinan mengalami penuaan atau kerusakan struktur sel. Cairan berminyak atau berwarna yang merembes dari bodi pun menandakan kerusakan serius. Cairan itu tidak boleh disentuh langsung karena dapat berbahaya bagi kulit.
Perangkat yang pernah jatuh keras, tertekan, atau mengalami bodi bengkok juga memiliki risiko. Benturan dapat merusak lapisan pemisah di dalam baterai, dan dampaknya bisa muncul tidak lama setelah kejadian maupun beberapa hari kemudian.
Langkah saat perangkat mengeluarkan asap
Segera hentikan penggunaan perangkat dan cabut kabel pengisian daya. Jika kondisinya masih memungkinkan, pindahkan perangkat ke permukaan yang tidak mudah terbakar, seperti lantai beton atau nampan logam. Jauhkan dari bantal, kain, kertas, dan benda lain yang mudah terbakar.
Ketika asap mulai keluar, bawa perangkat ke tempat terbuka dan jaga jarak aman minimal satu meter. Jangan memasukkannya kembali ke tas atau saku. Jika api sudah menyala, jangan menyiramnya dengan air karena dapat memperburuk reaksi kimia di dalam baterai. Gunakan alat pemadam api yang sesuai bila tersedia. Jika tidak, tinggalkan area tersebut dan hubungi layanan darurat setempat.
Setelah keadaan aman, perangkat sebaiknya dibawa ke pusat layanan resmi atau tempat pembuangan sampah elektronik. Jangan membuangnya ke tempat sampah biasa.
Cara mengurangi risiko kebakaran
Perangkat yang masih panas tidak sebaiknya ditutup dengan tas atau kain. Biarkan suhunya turun terlebih dahulu. Pengisian daya juga perlu dilakukan di permukaan yang tidak menahan panas, bukan di atas kasur, bantal, atau selimut.
Pengguna disarankan tidak membawa dua perangkat yang sama-sama panas dan aktif dalam satu tas tertutup. Dalam kasus di Stasiun Rawa Buntu, salah satu ponsel disebut digunakan sebagai titik akses internet atau hotspot di dalam tas.
Gunakan kabel dan adaptor resmi atau yang memiliki sertifikasi keamanan. Baterai yang sudah berumur atau menunjukkan kelainan perlu diganti di pusat layanan resmi.












