Berita  

Fenomena Karyawan Bingung Saat Dipaksa Kerja Pakai AI

Penerapan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja belum sepenuhnya diikuti pemahaman karyawan mengenai tujuan penggunaannya. Meski perusahaan mendorong pemanfaatan teknologi tersebut, hampir separuh pekerja masih mempertanyakan alasan mereka harus menggunakan AI dalam menjalankan tugas.

Temuan itu tercantum dalam riset Culture Amp bertajuk How Employees Really Feel About AI at Work. Survei tersebut melibatkan 112.000 responden dari 123 perusahaan di berbagai negara. Hasilnya, sebanyak 85% pekerja mengaku mendapat dorongan dari perusahaan untuk menggunakan AI, sementara 48% lainnya masih belum memahami alasan di balik kebijakan tersebut.

Jarak antara strategi perusahaan dan komunikasi manajer

Riset itu menggambarkan adanya kesenjangan antara strategi perusahaan dalam menerapkan AI dan penjelasan yang diterima karyawan dari manajer. Pekerja merasakan sejumlah manfaat teknologi ini, terutama dalam membantu produktivitas dan meningkatkan motivasi kerja. Mereka juga menyadari bahwa AI memiliki risiko.

Namun, pemahaman tersebut belum diikuti arahan yang jelas mengenai tujuan penerapan AI. Sebagian karyawan masih menunggu penjelasan tentang bagaimana teknologi itu akan memengaruhi pekerjaan mereka dan keterampilan apa yang tetap dibutuhkan pada masa depan.

Amy Lavoie, VP of People Science di Culture Amp, menilai situasi itu tidak dapat langsung diartikan sebagai penolakan karyawan terhadap perubahan. Menurut dia, pekerja telah mencoba menggunakan berbagai alat AI dan merasakan dampaknya terhadap produktivitas.

“Karyawan mengatakan mereka memahami risikonya, mereka menggunakan alat-alat tersebut, dan mereka merasa lebih produktif. Itu bukan tenaga kerja yang menolak perubahan. Itu tenaga kerja yang sudah melakukan bagiannya dan sekarang menunggu pimpinan melakukan bagian mereka,” ujar Lavoie, dikutip dari TechRadar, Senin (21/9/2026).

Perusahaan diminta terbuka soal strategi AI

Lavoie mengatakan ketidakjelasan itu juga dipengaruhi oleh strategi AI perusahaan yang masih disusun. Manajemen belum memiliki kepastian mengenai jenis pekerjaan yang akan berubah, keterampilan yang tetap bernilai, maupun arah karier karyawan dalam beberapa tahun mendatang.

“Kita belum tahu dengan pasti peran apa yang akan dibentuk ulang oleh AI, keterampilan apa yang tetap bernilai, atau seperti apa jalur karier tiga tahun ke depan,” kata Lavoie.

Ketidakpastian tersebut membuat sebagian pemimpin memilih tidak banyak berbicara. Mereka khawatir informasi yang disampaikan kepada karyawan kelak terbukti keliru. Pada saat yang sama, pekerja tetap diminta menggunakan AI tanpa memperoleh gambaran mengenai arah besar kebijakan tersebut.

Menurut Lavoie, perusahaan tidak harus sudah memiliki seluruh jawaban sebelum berkomunikasi dengan karyawan. Pemimpin, kata dia, dapat menyampaikan bahwa strategi penggunaan AI masih dalam proses penyusunan.

“Kepastian bukanlah yang dibutuhkan karyawan dari Anda saat ini. Keterbukaanlah yang dibutuhkan,” ujarnya.

Source link