Berita  

Harga Listrik Panas Bumi Turun Drastis, Potensi RI Terbesar

Harga panel surya merosot tajam hingga mencapai sekitar US$0,12 per watt atau setara Rp1.900 per watt. Tingkat harga ini jauh lebih rendah dibandingkan sekitar US$5–6 per watt pada 2000, yang jika dikonversikan berada di kisaran Rp9.000–Rp10.800 per watt. Penurunan tersebut membuat listrik tenaga surya disebut sebagai sumber listrik dengan biaya produksi paling murah dibandingkan sumber energi lainnya.

Perubahan harga itu terutama dipicu lonjakan produksi panel surya dalam skala besar. China menjadi salah satu penggerak utama penurunan tersebut sekaligus pemasok panel surya terbesar di dunia. Laporan Futurism yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (21/9/2026), menyebut kondisi ini telah membawa harga energi surya ke tingkat yang dinilai sangat rendah.

Harga rendah mulai mengubah sistem energi

Dave Jones, pendiri lembaga penelitian energi Ember, menggambarkan harga panel surya saat ini sebagai “sangat murah hingga terasa tidak wajar”. Menurut dia, penurunan harga tersebut memperluas akses terhadap energi bersih, baik di negara maju maupun negara berkembang.

Dampaknya mulai terlihat di sejumlah negara. Di Amerika Serikat, produksi listrik dari tenaga surya untuk pertama kalinya melampaui pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pada Juni 2026. Perkembangan itu terjadi meskipun pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya mempertahankan industri batu bara.

Di Spanyol, pasokan listrik dari tenaga surya yang melimpah membuat harga listrik pada waktu tertentu turun hingga nol rupiah. Dalam kondisi tertentu, konsumen bahkan dibayar untuk menggunakan lebih banyak listrik.

Manfaat panel surya juga dirasakan di Kenya. Rumah tangga yang sebelumnya mengandalkan lampu minyak kini memperoleh penerangan 20 hingga 40 kali lebih terang melalui panel surya berukuran kecil yang harganya terjangkau.

Sementara itu, China menghadapi persoalan berbeda. Produksi energi surya yang sangat besar mulai membebani kemampuan jaringan listrik untuk menyerap pasokan tersebut. Wakil ketua BTR New Material Group, perusahaan baterai besar, menggambarkan situasinya dengan mengatakan, “Kami memasang terlalu banyak energi hijau.”

Peluang bagi Indonesia

Penurunan harga panel surya membuka peluang besar bagi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dan menerima sinar matahari sepanjang tahun. Listrik tenaga surya yang lebih murah berpotensi menekan biaya hidup masyarakat serta laju inflasi.

Panel surya mandiri juga dapat dipasang di wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik. Dengan cara itu, masyarakat di daerah tersebut tidak harus menunggu pembangunan jaringan kabel dari pusat pembangkit untuk mendapatkan akses penerangan dan listrik.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia disebut berpeluang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang semakin mahal dan tercemar. Dalam jangka lebih jauh, negara ini bahkan berpotensi beralih menjadi pengekspor energi bersih.

Namun, harga murah saja belum cukup untuk memastikan manfaat tersebut terwujud. Kecepatan Indonesia dalam menyerap dan memanfaatkan teknologi panel surya menjadi faktor penting agar peluang dari penurunan harga ini dapat dirasakan secara luas.

Source link