Sejumlah penerbit dan pemilik situs di berbagai negara mulai mempertimbangkan langkah ekstrem terhadap Google setelah fitur kecerdasan buatan di halaman pencarian dinilai mengurangi kunjungan ke situs asli. Jawaban yang langsung muncul di laman Google membuat pengguna tidak lagi perlu membuka tautan sumber, sementara penerbit kehilangan lalu lintas dan potensi pendapatan.
Laporan Futurism yang dikutip CNBC Indonesia, Senin (21/9/2026), menyebut kondisi tersebut mendorong media besar, komunitas daring, hingga platform diskusi untuk meninjau kembali hubungan mereka dengan Google. Sebagian penerbit bahkan mulai membahas kemungkinan memutus akses Google sepenuhnya.
Lalu lintas media turun tajam
Dampaknya mulai tercermin dalam data sejumlah media Amerika Serikat. USA Today melaporkan kunjungan yang berasal dari pencarian Google merosot hampir 50 persen dalam setahun terakhir. Penurunan tersebut menjadi alasan bagi sejumlah perusahaan media untuk mengevaluasi kembali kerja sama mereka dengan raksasa teknologi itu.
Politico, The Economist, Reuters, dan majalah People termasuk penerbit yang disebut sedang meninjau hubungan dengan Google. David Buttle, konsultan industri media, menggambarkan situasi tersebut sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan penerbit.
“Ini soal hidup dan mati bagi sebagian penerbit,” kata Buttle. “Mereka kini memikirkan langkah yang sangat drastis.”
Sikap keras juga disampaikan Mike Reed dari USA Today. “Sudah saatnya berkata cukup. Kami tidak akan membiarkan ini terus terjadi,” ujarnya.
Reddit turut mempertimbangkan penghentian kontrak senilai Rp900 miliar per tahun dengan Google. Kesepakatan itu memungkinkan Google menggunakan unggahan pengguna Reddit untuk melatih sistem kecerdasan buatannya.
Mesin mengambil informasi, manusia makin jarang datang
Perubahan pola lalu lintas internet tidak hanya dirasakan penerbit. Matthew Prince, pimpinan perusahaan keamanan internet Cloudflare, mengatakan lalu lintas ke situs kini untuk pertama kalinya dalam sejarah internet didominasi mesin, bukan manusia.
Artinya, sistem otomatis semakin banyak mengambil dan memproses informasi, sedangkan jumlah orang yang benar-benar membaca konten di situs menurun. Para pembuat konten pun tidak memperoleh imbalan yang sebanding dari aktivitas tersebut.
Google membantah tudingan bahwa fitur AI-nya merugikan penerbit. Perusahaan itu menyatakan masih mengirimkan miliaran klik setiap pekan serta membantu pembuat konten menjangkau lebih banyak pengguna. Namun, klaim tersebut belum meredakan kekhawatiran penerbit yang melihat angka kunjungan dari Google terus turun.
Sengketa hak cipta dan ancaman terhadap konten asli
Sejumlah penerbit telah menempuh jalur hukum dengan menuduh Google mengambil karya berhak cipta tanpa izin untuk digunakan sebagai bahan penyusunan jawaban AI.
Persoalan yang dihadapi penerbit dinilai tidak berhenti pada penurunan pendapatan. Jika semakin sedikit orang mengakses situs asli, insentif untuk menulis dan menerbitkan informasi baru juga ikut melemah. Kondisi itu berpotensi mengurangi aliran materi baru yang dibutuhkan sistem kecerdasan buatan.
Para pengamat memperingatkan, ketika sumber informasi baru semakin sedikit, AI berisiko hanya mengulang materi yang sudah tersedia. Internet pun dapat bergeser dari ruang bagi manusia untuk berbagi pengetahuan menjadi tempat yang terutama menampilkan jawaban yang dihasilkan mesin.












