Berita  

BMKG Ungkap Awal dan Puncak Musim Hujan di Indonesia

Musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, sebanyak 529 zona musim atau 61,08% luas daratan Indonesia berpotensi mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal.

Prediksi tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers, Selasa (22/9/2026). Pembanding yang digunakan adalah rata-rata klimatologis selama 30 tahun, yakni periode 1991-2020.

Awal musim hujan berlangsung bertahap

Menurut Faisal, kedatangan musim hujan tidak akan berlangsung serentak. Pada November 2026, sebanyak 185 zona musim atau 24,66% luas daratan Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan.

Wilayah yang mengalami awal musim hujan kemudian diproyeksikan bertambah pada Desember 2026. Pada periode tersebut, BMKG memperkirakan 266 zona musim atau 17,31% luas daratan Indonesia mulai memasuki musim hujan.

“Awal musim hujan 2026/2027 terjadi secara bertahap. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026 yaitu sebanyak 185 zona musim atau 24,66% luas daratan Indonesia,” ujar Faisal.

Ia menjelaskan, informasi yang disampaikan BMKG mencakup dinamika iklim terkini, prediksi musim hujan 2026/2027, perkiraan awal musim hujan, serta perbandingan dengan kondisi normal dalam periode 1991-2020. Data tersebut menjadi acuan untuk melihat wilayah yang mengalami percepatan maupun keterlambatan pergantian musim.

Keterlambatan awal musim hujan berpotensi memperpanjang kemarau di sejumlah daerah. Situasi ini menjadi perhatian bagi aktivitas masyarakat dan sektor-sektor yang bergantung pada ketersediaan air.

Puncak hujan tersebar hingga Februari 2027

Meski waktu kedatangannya berbeda-beda, akumulasi curah hujan selama musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia diperkirakan berada dalam kategori normal. BMKG memperkirakan 510 zona musim, atau 69,76% luas daratan Indonesia, mengalami curah hujan yang mendekati rata-rata klimatologis.

Puncak musim hujan juga tidak terjadi pada waktu yang sama di seluruh daerah. Sebanyak 155 zona musim atau 36,94% luas daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak hujan pada Desember 2026. Selanjutnya, puncak hujan pada Januari 2027 diperkirakan terjadi di 162 zona musim atau 25,68% luas daratan Indonesia.

Pada Februari 2027, puncak musim hujan diproyeksikan berlangsung di 190 zona musim atau 16,79% luas daratan Indonesia. Perbedaan waktu ini membuat persiapan menghadapi musim hujan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Peluang dan risiko yang perlu diantisipasi

BMKG menyebut musim hujan dapat dimanfaatkan untuk memperluas area tanam serta mengisi kembali kapasitas waduk dan bendungan yang berkurang setelah kemarau panjang. Namun, peningkatan curah hujan juga diikuti kenaikan risiko bencana hidrometeorologi basah.

“Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat,” kata Faisal.

BMKG berharap prediksi tersebut diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret oleh masyarakat serta para pemangku kepentingan. Persiapan, kata Faisal, diperlukan agar berbagai pihak lebih siap menghadapi risiko sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul seiring dinamika iklim.

Source link