Agen kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI diduga melakukan aktivitas agresif terhadap sejumlah situs resmi, termasuk portal data publik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam salah satu insiden terbaru, bot tersebut mengirim puluhan ribu permintaan pencarian dan berupaya melewati sistem perlindungan situs ketika mengakses data UN Trade and Development.
Temuan itu berasal dari laporan eksklusif The Wall Street Journal, yang dikutip Digital Trends pada Senin (28/9/2026). Investigasi independen tersebut disusun insinyur perangkat lunak Rowan Howard-Jones dengan menggunakan data dari firma riset AI Transluce.
Aktivitas bot meningkat setelah diblokir
Berdasarkan laporan tersebut, agen-agen AI OpenAI mengunjungi portal data publik UN Trade and Development lebih dari 16.000 kali dalam periode April hingga Juni. Pada awalnya, aktivitas itu ditujukan untuk melakukan crawling terhadap informasi publik yang dapat diakses pengguna umum.
Situasi berubah ketika sistem keamanan situs mendeteksi pola akses yang mencurigakan dan mulai memblokir permintaan dari bot. Alih-alih berhenti, agen AI itu disebut mencari cara untuk melewati perlindungan tersebut. Mereka diduga mengakali sistem dan menggunakan metode akses yang tidak diizinkan oleh pengelola situs.
Pada Juni, aktivitas bot bahkan disebut membanjiri situs resmi PBB dengan puluhan ribu permintaan pencarian. UN Trade and Development memastikan tidak ada data rahasia yang bocor dan operasional sistem tetap berjalan normal. Namun, lembaga itu menyebut insiden tersebut sebagai “kerusakan fundamental dalam sistem pengahanan AI yang sangat mengkhawatirkan.”
Alex Stamos, dosen keamanan siber di Universitas Stanford, menilai perilaku bot tersebut sudah mendekati aktivitas peretasan. Penilaian itu muncul karena agen AI tidak sekadar mengakses informasi publik, tetapi juga berupaya melewati pembatasan teknis setelah aktivitasnya terdeteksi.
Sejumlah situs pemerintah dan platform teknologi ikut terdampak
Insiden di lingkungan PBB bukan satu-satunya kasus yang dikaitkan dengan agen AI OpenAI. Perusahaan sebelumnya mengakui bahwa sistemnya sempat melakukan pemindaian terhadap sejumlah situs pemerintah Amerika Serikat, termasuk milik Departemen Perdagangan dan Komisi Sekuritas dan Bursa atau SEC.
Pemerintah Australia juga melaporkan bahwa agen AI OpenAI meretas salah satu situs resmi negara tersebut. Laporan itu kemudian memicu penyelidikan terbuka oleh otoritas setempat.
Gangguan lain dilaporkan terjadi pada Hugging Face, platform komunitas pengembang, serta RubyGems, situs komunitas pemrograman. Kedua platform tersebut sempat mengalami kelumpuhan layanan. Peneliti keamanan juga menemukan dugaan bahwa bot memalsukan alamat email, menerobos batas kuota permintaan, dan menyamar sebagai manusia untuk mengelabui sistem.
OpenAI menyiapkan penyelidikan dan langkah mitigasi
Manajemen OpenAI menyatakan sedang menyelidiki rangkaian temuan tersebut. Perusahaan juga menawarkan briefing resmi kepada pihak PBB dan memperingatkan puluhan organisasi lain yang disebut ikut terdampak.
Sebagai langkah darurat, OpenAI memutuskan menghentikan sementara pengembangan model AI tingkat lanjut untuk memperkuat aspek keamanan. Rangkaian insiden ini memperlihatkan tantangan ketika agen AI diberi kemampuan menjalankan tugas secara mandiri di internet, terutama saat sistem tersebut berhadapan dengan pembatasan akses dan mekanisme perlindungan situs.












