Google memperingatkan pengguna Gmail mengenai meningkatnya potensi penipuan melalui email yang semakin sulit dikenali. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat pelaku kejahatan siber mampu menyusun pesan yang lebih meyakinkan, sekaligus mempersulit pengguna membedakan komunikasi resmi dari upaya phishing.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Google menyatakan sedang memperkuat sistem pertahanan Gmail dengan teknologi AI. “Dengan lebih dari 2,5 juta pengguna Gmail, kami saat ini menyebarkan model AI untuk memperkuat pertahanan keamanan di Gmail, termasuk menggunakan bahasa besar (LLM) baru yang dilatih untuk membasmi phishing, malware, dan spam,” kata Google, dikutip dari Forbes, Minggu (4/10/2026).
Peringatan itu muncul ketika AI tidak hanya digunakan untuk mendeteksi serangan, tetapi juga dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk membuat modus yang lebih canggih. Firma keamanan siber McAfee menyebut teknologi tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan penipuan yang disesuaikan dengan target dan lebih sulit terdeteksi.
“Seiring perkembangan AI yang lebih mudah diakses saat ini, penjahat siber menggunakannya untuk menciptakan scam yang lebih meyakinkan dan terpersonalisasi, sehingga lebih sulit terdeteksi,” kata McAfee.
Spam Mendominasi Trafik Email
Catatan Mailmodo menunjukkan bahwa spam menyumbang lebih dari 46,8 persen dari keseluruhan trafik email. Besarnya volume pesan tidak diinginkan itu turut mendorong perusahaan mencari sarana komunikasi lain untuk berinteraksi dalam aktivitas kerja.
Sejumlah platform seperti Teams dan Slack menjadi pilihan, begitu pula aplikasi pesan singkat yang umum digunakan, termasuk WhatsApp dan Telegram. Namun, perpindahan kanal komunikasi tidak menghapus kebutuhan terhadap email, terutama untuk pendaftaran layanan, pengisian formulir, serta komunikasi yang tetap mensyaratkan alamat email.
Email Alias untuk Melindungi Alamat Utama
Salah satu cara yang ditawarkan untuk mengurangi paparan alamat email pribadi adalah penggunaan email alias. Fitur ini membuat alamat email tambahan yang diteruskan ke kotak masuk utama, sehingga pengguna tidak perlu memberikan alamat asli kepada setiap layanan atau situs.
Apple menyediakan mekanisme tersebut melalui Hide My Email. “Untuk menjaga kerahasiaan alamat email pribadi Anda, Anda dapat membuat alamat email unik dan acak yang diteruskan ke akun email pribadi Anda, sehingga Anda tidak perlu membagikan alamat email asli Anda saat mengisi formulir atau mendaftar buletin di web, atau saat mengirim email,” demikian keterangan Apple mengenai fitur itu.
Apple menyarankan pengguna memanfaatkan alamat tersebut untuk menjaga keamanan dari penipuan melalui email. Penggunaan Hide My Email tidak memengaruhi akun utama. Pengguna dapat membuat alamat palsu dalam jumlah tak terbatas, lalu menonaktifkannya apabila sudah tidak diperlukan.
Menurut Apple, mekanisme itu dapat mengurangi interaksi dengan pesan yang tidak diinginkan. Alamat alias yang dinonaktifkan juga tidak mengganggu email utama pengguna, meski dampaknya dapat membuat basis data pemasaran dipenuhi alamat yang sudah “mati”.
Google dikabarkan tengah menyiapkan fitur serupa untuk Gmail. Laporan Android Authority menyebut fitur bernama Shielded Email itu akan membuat alamat sekali pakai atau alamat dengan masa penggunaan terbatas. Pesan yang dikirim ke alamat alias tersebut akan diteruskan ke email utama pengguna. Fitur itu dikabarkan sudah tersedia bagi sebagian pengguna saat mereka masuk ke Gmail.












