Perkembangan teknologi robot humanoid semakin nyata dengan OpenAI yang mulai fokus pada penelitian dalam bidang robotika. Perusahaan ini merekrut peneliti berpengalaman di bidang kecerdasan buatan (AI) dan sistem humanoid untuk mengembangkan algoritma AI yang dapat mengendalikan robot humanoid. Robot nantinya akan dilatih melalui teleoperasi dan simulasi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap dunia fisik, memungkinkan mereka untuk navigasi dan menyelesaikan tugas-tugas sebagaimana layaknya manusia.
Sejumlah peneliti berpengalaman seperti Chengshu Li dari Stanford University telah direkrut oleh OpenAI, menunjukkan keseriusan perusahaan ini dalam bidang robotika. Meskipun belum memberikan informasi langsung tentang rencananya, OpenAI telah memasang banyak lowongan kerja terkait posisi di tim robotikanya. Lowongan pekerjaan ini membutuhkan keahlian teleoperasi, simulasi menggunakan Nvidia Isaac, dan desain sistem mekanik untuk produksi massal.
Langkah ini menandai kembalinya OpenAI ke riset robotika setelah sebelumnya menghentikan pada 2021. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan robot serbaguna untuk mendorong kemajuan kecerdasan buatan umum (AGI) di dunia nyata. Di tengah persaingan yang ketat dengan startup dan perusahaan besar lainnya di bidang humanoid, OpenAI bersiap untuk membangun robot lebih efektif melalui perancangan dan pelatihan model AI yang canggih.
Spekulasi muncul bahwa OpenAI mungkin tengah berupaya mengembangkan robot buatannya sendiri atau sistem pelatihan robot berskala besar. Ahli robotika Stefanie Tellex mengatakan bahwa membangun robot yang efektif memerlukan model AI yang tajam dan cepat dalam memproses input dan output fisik. Sementara itu, pesaing lain seperti Figure, Agility, dan Apptronik juga turut meramaikan persaingan di bidang humanoid. Meski demikian, OpenAI berusaha untuk tetap unggul dalam mengembangkan teknologi robot humanoid yang inovatif.












