Di tengah kebijakan baru Amerika Serikat (AS) yang mengenakan biaya visa kerja H-1B hingga US$100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) per tahun, China meluncurkan program visa baru untuk menarik talenta teknologi global. Program visa terbaru ini, yaitu visa K, ditujukan untuk menarik lulusan muda asing di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Berbeda dengan visa H-1B yang memerlukan sponsor perusahaan dan mengikuti sistem undian, visa K memungkinkan pekerja asing untuk bekerja di China tanpa perlu tawaran kerja terlebih dahulu.
Pemerintah China juga memberlakukan kebijakan bebas visa bagi warga sebagian besar negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, untuk memperkuat citra negara yang terbuka terhadap investasi dan tenaga kerja asing. Meskipun menjanjikan, visa K masih menimbulkan beberapa pertanyaan terkait syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti usia, latar belakang pendidikan, dan pengalaman kerja.
Meski demikian, kendala bahasa, terutama bahasa Mandarin yang digunakan mayoritas perusahaan teknologi di China, menjadi hambatan bagi calon pelamar dari luar China. Selain itu, ketegangan politik antara India dan China juga dapat membatasi jumlah pelamar dari India yang selama ini menjadi penerima terbesar visa H-1B di AS. Meskipun China telah mengadopsi beberapa program insentif untuk menarik talenta asing, program visa K yang ditujukan bagi talenta non-China masih tergolong baru.
Meski kemungkinan perubahan besar dalam kebijakan imigrasi China terbilang kecil, kehadiran visa K diharapkan dapat memperkuat posisi China dalam persaingan teknologi global dengan AS. Dengan menarik sebagian kecil talenta teknologi dunia, China berpotensi memperkuat posisinya di bidang teknologi mutakhir.












