Sejumlah ilmuwan memperingatkan tentang potensi keruntuhan Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), yang merupakan sistem arus laut besar di Samudra Atlantik yang memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas iklim global. Jika AMOC terus melambat atau bahkan berhenti, dampaknya bisa sangat merugikan, mulai dari banjir, kekeringan, badai ekstrem, hingga gangguan pada ekosistem laut. Oseanografer Stefan Rahmstorf dari Potsdam Institute for Climate Impact Research menyatakan bahwa risiko keruntuhan AMOC menjadi semakin nyata berdasarkan bukti-bukti baru yang didapatkan.
AMOC, atau Atlantic Meridional Overturning Circulation, merupakan jaringan besar arus laut di Samudra Atlantik yang sering diibaratkan sebagai ban berjalan raksasa. Sistem ini mengangkut air hangat kaya nutrisi dari khatulistiwa ke daerah utara dan sebaliknya, serta mengalirkan air dingin dari kutub ke selatan. Proses sirkulasi ini terbentuk karena perbedaan kadar garam dan suhu di dalam laut, yang memicu pergerakan arus laut dari permukaan hingga dasar laut.
Menurut Profesor Oseanografi dan Iklim Robert Marsh dari University of Southampton, AMOC telah berperan sebagai penstabil iklim Eropa selama ribuan tahun. Meskipun demikian, proses ini juga menjadi penyebab cuaca yang sangat bervariasi di kawasan tersebut. Siklus AMOC dimulai dari pergerakan air hangat ke utara yang kemudian dingin dan membentuk es di Atlantik Utara. Proses tersebut telah menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang menjadi yang terlemah dalam seribu tahun terakhir.
Upaya untuk menyelamatkan AMOC masih memungkinkan, terutama dengan menjaga konsistensi dalam implementasi Perjanjian Paris. Membatasi pemanasan global hingga 1,5°C bahkan di bawah 2°C dianggap sebagai langkah krusial yang dapat membantu menjaga kestabilan AMOC dan mencegah skenario terburuk akibat keruntuhan sistem ini. Ilmuwan optimis bahwa dengan upaya yang tepat, titik kritis tersebut masih dapat dihindari.












