Sebuah penemuan menarik telah diungkap oleh seorang antropolog asal Australia yang menyatakan bahwa keturunan manusia Flores masih mungkin hidup di tengah masyarakat modern saat ini. Homo floresiensis, spesies manusia purba yang dianggap sebagai Hobbit karena postur tubuh mungilnya, telah lama menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Para ahli evolusi biologi percaya bahwa Homo sapiens berasal dari nenek moyang yang sama dengan spesies primata lainnya.
Homo floresiensis diidentifikasi sebagai spesies dengan tubuh pendek, tinggi hanya 106 cm, otak kecil, serta tidak memiliki dagu dan telapak kaki rata. Meskipun diyakini telah punah puluhan ribu tahun yang lalu, penemuan fosil Homo floresiensis pada tahun 2004 di Liang Bua, Pulau Flores, mengundang pertanyaan baru. Sebuah antropolog bernama Gregory Forth mengklaim bahwa masih ada warga lokal suku Lio yang melihat makhluk kerdil mirip manusia, yang diyakini sebagai Homo floresiensis yang masih hidup. Namun, pendapat ini kemudian dibantah oleh Matthew Tocheri dari Smithsonian Institution yang meragukan keberlangsungan Homo floresiensis di era modern.
Menurut Tocheri, jumlah populasi manusia Flores purba saat ini terlalu kecil untuk bertahan hidup di tengah masyarakat modern. Corey Bradshaw dari Flinders University juga setuju dengan pendapat tersebut, bahwa untuk menghindari kepunahan, sebuah spesies membutuhkan jumlah individu efektif yang cukup. Dengan demikian, mempertanyakan keberlangsungan Homo floresiensis dalam jumlah populasi yang memadai di zaman sekarang.












