Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama di wilayah pesisir selatan yang memiliki tingkat aktivitas seismik yang tinggi. Data BMKG menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir terdapat 114 kejadian gempa bumi dengan magnitudo di atas 5, dua di antaranya menyebabkan kerusakan, dan 44 guncangan yang dirasakan oleh masyarakat.
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PUSGEN 2017) menyatakan bahwa potensi gempa bumi megathrust di selatan Pulau Jawa dapat mencapai magnitudo M8,8 yang berpotensi memicu tsunami besar. Kabupaten Kulon Progo menjadi wilayah strategis karena selain rentan bencana, juga menjadi pintu masuk pariwisata Yogyakarta dengan adanya Yogyakarta International Airport (YIA) yang telah dirancang khusus untuk menghadapi ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami.
BMKG telah meluncurkan berbagai program seperti Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami, Masyarakat Siaga Tsunami, dan BMKG Goes To School untuk memperkuat mitigasi. Saat ini, enam desa di DIY telah diakui sebagai Masyarakat Siaga Tsunami, sementara program edukasi di sekolah telah mencapai 166 sekolah dengan lebih dari 20 ribu peserta. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan masyarakat dalam merespons bahaya serta memahami peringatan dini. Adapun implementasi 12 Indikator Tsunami Ready yang ditetapkan oleh UNESCO-IOC, seperti pembangunan rambu evakuasi, peta bahaya tsunami, dan rencana kontinjensi, harus segera direalisasikan di wilayah pesisir.












