CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan teknologi software dan berbagai alat pendukungnya, di tengah tekanan pada saham-saham perusahaan software global. Pernyataan ini muncul setelah terjadi aksi jual besar-besaran saham sektor software di beberapa negara pada Selasa (3/2) yang berlanjut hingga hari berikutnya. Tekanan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat mengganggu industri data dan layanan profesional.
Kekhawatiran ini meningkat setelah pengembang AI Anthropic merilis pembaruan chatbot terbaru, yang menyebabkan spekulasi bahwa AI dapat menggeser peran perusahaan software konvensional. Namun, Huang menegaskan bahwa pandangan tersebut keliru. Pada konferensi AI di San Francisco yang diselenggarakan oleh Cisco Systems, dia menekankan bahwa AI sebenarnya memerlukan ekosistem software yang sudah ada, bukan membangun ulang alat-alat dasar dari awal.
Menurut Huang, baik manusia maupun robot akan cenderung menggunakan alat-alat yang sudah ada untuk meningkatkan efisiensi. Hal ini terbukti dengan fokus terobosan terbaru dalam AI yang lebih menjelaskan pentingnya penggunaan alat-alat yang sudah ada dalam pengembangan teknologi AI.
Aksi jual saham software juga menyebar ke berbagai wilayah, seperti di India, China, Hong Kong, dan Jepang. Di India, NIFTY IT, indeks saham perusahaan eksportir teknologi informasi, turun 6,3%, dengan saham Infosys merosot 7,3%. Di China, Indeks Layanan Perangkat Lunak CSI turun 3%, sementara saham Kingdee International Software Group di Hong Kong merosot lebih dari 13%. Di Jepang, saham perusahaan penyedia tenaga kerja Recruit Holdings dan Nomura Research masing-masing turun 9% dan 8%.
Dengan demikian, Huang memberikan pandangan yang jelas bahwa meskipun perkembangan teknologi AI terus berlangsung, software konvensional tetap memiliki peran penting dalam mendukung ekosistem AI. Melalui kontribusinya, Huang berharap untuk meredakan kekhawatiran yang muncul terkait perkembangan AI di industri software global.












