Berita  

Tanda Kiamat Dekat: Potret Terkini di Wilayah RI

BRIN Ungkap Penyebab Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dampak nyata “kiamat” perubahan iklim global melalui penyebab meningkatnya hujan ekstrem dan munculnya siklon tropis di Indonesia. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, menyatakan bahwa pemanasan global telah menyebabkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi.

Menurut Eddy, fenomena global warming bukan lagi sekadar teori, melainkan telah menjadi aksi nyata di atmosfer dengan kenaikan muka laut, cuaca ekstrem, dan ancaman baru seperti siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa hujan ekstrem berdurasi pendek dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial, sementara hujan ekstrem harian hingga mingguan dipengaruhi oleh La NiƱa dan Indian Ocean Dipole (IOD).

Eddy juga menyoroti posisi Indonesia yang berada di jalur Asian Monsoon sebagai faktor penyebab siklon tropis masuk ke wilayah Indonesia. Dia menjelaskan bahwa kondisi geografis Jakarta yang berupa dataran aluvial, pantai landai, dan pemanasan berkelanjutan membuat kota tersebut menjadi pusat tekanan rendah yang ideal untuk terbentuknya pusaran angin.

Dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, Eddy menggarisbawahi pentingnya transformasi sistem peringatan dini dengan memanfaatkan teknologi AI, big data, machine learning, dan deep learning untuk prediksi cuaca yang lebih presisi. Dia berharap hasil riset BRIN dapat menjadi dasar mitigasi, pemetaan risiko, dan pengambilan kebijakan berbasis sains dalam pengelolaan bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Selain faktor atmosfer, Eddy juga memberikan perhatian terhadap lemahnya daya tahan lingkungan, terutama di wilayah perkotaan. Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kawasan terbangun membuat air kehilangan ruang resapan, yang menyebabkan banjir di Jakarta tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi tapi juga karena ketidaksiapan lanskap perkotaan menghadapi beban hidrometeorologi ekstrem.

Source link