Iran mulai mengalihkan penggunaannya dari sistem satelit navigasi Global Positioning System (GPS) buatan Amerika Serikat ke BeiDou Navigation Satellite System milik China. Langkah ini membuat negara Barat merasa khawatir karena Iran telah bergantung pada GPS untuk sistem rudal, jaringan seluler, dan armada kapal dagangnya. Namun, Iran secara bertahap beralih ke BeiDou Navigation Satellite System milik China, memutuskan ketergantungan pada infrastruktur Amerika Serikat.
Keputusan Iran untuk menggunakan BeiDou Navigation Satellite System dibuat setelah menyadari risiko dari ketergantungan pada GPS yang dikendalikan oleh Amerika Serikat, terutama dalam situasi di bawah sanksi dan pengawasan. Dengan sistem BeiDou yang menawarkan cakupan global penuh dan sinyal militer terenkripsi dengan akurasi tinggi, Iran telah memperoleh akses ke sinyal militer tingkat tinggi.
Peralihan ini tidak hanya berdampak pada sisi militer Iran, tetapi juga pada sektor sipil. Penggunaan BeiDou semakin berkembang di Iran, digunakan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dampak geopolitiknya juga signifikan, dengan penggunaan aliansi infrastruktur global GPS mulai beralih ke sistem ciptaan China.
Peralihan ke BeiDou Navigation Satellite System memperlihatkan adanya blok baru yang terbentuk berdasarkan kedaulatan digital dan kepentingan geopolitik yang sama, bukan hanya ideologi. Bagi Amerika Serikat, tantangan datang dalam konflik masa depan dengan Iran di mana mematikan akses GPS tidak lagi membuat serangan menjadi “buta” arah.
Secara keseluruhan, perubahan tersebut menggambarkan pergeseran global dalam hal dominasi sistem navigasi, dengan China secara bertahap menciptakan alternatif bagi sistem yang sebelumnya dikontrol oleh Barat. Masa depan perang dan perdamaian kini tidak hanya ditentukan oleh pasukan darat atau kapal laut, tetapi juga oleh logika satelit di orbit yang memandu rudal dan ekonomi di atas bumi.












