Berita  

Trump Terkecoh, Iran-Rusia-Korut Main Belakang Bersama

Amerika Serikat Dihadapkan dengan Musuh yang Canggih di Dunia Kripto

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejak dulu, Amerika Serikat (AS) dikenal tak ragu memberlakukan sanksi kepada negara-negara yang dianggap sebagai ‘musuh’ mereka. Namun, negara-negara seperti Iran, Korea Utara (Korut), dan Rusia terbukti ‘main belakang’ dengan mengelola lebih dari US$100 miliar dalam bentuk mata uang kripto sepanjang tahun 2025.

Laporan dari Wall Street Journal pada akhir pekan lalu mengungkapkan bahwa negara-negara musuh AS telah semakin canggih dalam menavigasi pasar kripto. Mereka memanfaatkan token digital dan bursa pertukaran kripto untuk membantu proses transaksi keuangan, seperti yang dilaporkan oleh perusahaan kripto dan otoritas Barat.

Kripto Sebagai Cara Menghindari Sanksi Secara Signifikan

Analis intelijen senior di Chainalysis, Kaitlin Martin, menyatakan bahwa kripto telah menjadi alat yang signifikan dalam menghindari sanksi yang diberlakukan. Menurut Chainalysis, alamat kripto yang terhubung dengan negara-negara ‘musuh’ AS telah menerima lebih dari US$100 miliar sepanjang tahun lalu, melampaui jumlah tahun sebelumnya.

Iran dan Rusia dilaporkan menggunakan aset digital untuk membayar drone, komponen senjata, bahkan pembayaran kru yang menyelundupkan minyak ke seluruh dunia. Korea Utara juga diduga mencuri kripto melalui serangan siber untuk membeli bahan bakar dan peralatan militer.

Celah Alternatif Menghadapi Kripto yang Digunakan Musuh AS

Menurut laporan WSJ, para pejabat Barat mulai menghadapi kesulitan untuk menutup celah alternatif yang dimanfaatkan oleh negara-negara musuh. Kripto telah menjadi instrumen keuangan populer untuk menghindari sanksi yang diberlakukan oleh AS.

AS sendiri telah menangguhkan sanksi terhadap minyak Iran, tetapi bisa diberlakukan kembali jika tidak ada kesepakatan damai. Sanksi AS telah menciptakan perubahan dalam kejahatan kripto, dengan nilai transaksi yang jauh melampaui kejahatan siber konvensional.

Di tengah kontroversi ini, stablecoin yang didukung oleh mata uang rubel, yang dikenal dengan sebutan token A7A5, menjadi sorotan. Token ini bahkan dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa karena peran signifikan dalam transaksi senilai miliaran dolar setiap minggunya.

Source link