Uni Eropa Bangun 7 Gigafactory untuk Meramaikan Perlombaan AI
Jakarta, CNBC Indonesia – Uni Eropa siap meramaikan perlombaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan rencana membangun tujuh gigafactory di kawasan tersebut. Investasi sebesar 10 miliar euro (sekitar Rp 207,4 triliun) akan dialokasikan untuk mengembangkan fasilitas canggih ini.
Investasi Besar untuk Mempacu Kemajuan Teknologi AI
Komisi Eropa telah mengumumkan rencana pengembangan tujuh gigafactory yang akan berisi prosesor AI terbaru, software, teknologi cloud, konektivitas berkecepatan tinggi, dan pusat data. Jumlah gigafactory ini bertambah dari rencana semula yang hanya mencakup lima fasilitas, menurut laporan dari Reuters.
Lebih lanjut, pembangunan gigafactory AI ini juga akan menambah jumlah total 19 pabrik AI yang sudah ada di berbagai negara di Uni Eropa. Hal ini merupakan langkah strategis untuk memastikan akses ke daya komputasi yang diperlukan dalam percepatan pengembangan AI di kawasan tersebut.
Tender Ditutup, Langkah Menuju Perkembangan Lebih Lanjut
Proses tender untuk pembangunan gigafactory AI ini ditutup pada 12 November 2026, dengan harapan hasil tender dapat diumumkan pada awal 2027. Setelah kontrak ditandatangani, gigafactory akan mulai beroperasi dalam waktu 18 bulan.
Dana investasi yang cukup besar ini diharapkan mampu menarik investasi swasta hingga 20 miliar euro (sekitar Rp 415 miliar) untuk mendukung perkembangan teknologi AI di Uni Eropa. Beberapa perusahaan teknologi besar seperti AMD, Nvidia, dan Qualcomm juga telah berkolaborasi dengan Komisi Eropa dalam proyek ini.
Dengan semakin berkembangnya teknologi AI, persaingan antarnegara dan perusahaan semakin sengit. Langkah Uni Eropa untuk membangun gigafactory AI yang canggih merupakan bukti komitmen mereka dalam meraih posisi terdepan dalam perlombaan teknologi AI global.












