Berita  

Ahli Jerman Buka Mistis Soal Danau Toba

Ahli Jerman Ungkap Fakta Baru seputar Letusan Gunung Toba

Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam sebuah penelitian terbaru, para ilmuwan dari Jerman menemukan bahwa dampak letusan Gunung Toba, yang menciptakan Danau Toba, terhadap manusia tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesalahan pandangan terhadap letusan vulkanik terbesar dalam 2,6 juta tahun terakhir.

Seperti yang dilansir dari tanggal 10 Agustus 2026, peneliti dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, Jinheum Park, menyatakan bahwa letusan Gunung Toba sebesar 74.000 tahun lalu hanya berdampak dalam waktu sekitar 18 bulan, bukan jangka waktu yang lebih panjang seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Penelusuran Melalui Endapan Lumpur

Park dan timnya menggunakan Danau Chala, sebuah danau kawah kecil di perbatasan Kenya dan Tanzania, sebagai sumber untuk menelusuri dampak letusan Gunung Toba. Mereka menemukan bahwa setelah letusan, terjadi perubahan iklim yang menciptakan kondisi tertentu dalam danau.

Dengan menggunakan analisis lapisan sedimen dan berbagai metode penelitian lainnya, para ilmuwan berhasil merekonstruksi bagaimana diatom (ganggang mikroskopis) di dalam danau bereaksi terhadap perubahan iklim pasca letusan. Dampak utama dari letusan Toba, yakni pendinginan permukaan bumi, ternyata hanya sekitar 0,5 derajat Celsius secara regional.

Perkiraan yang Lebih Akurat

Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, tim ilmuwan mengungkap bahwa letusan Gunung Toba pada masa itu memang menyebabkan perubahan iklim, namun tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan. Pendekatan ini diharapkan juga dapat diterapkan untuk mempelajari letusan supervulkan lain di berbagai belahan dunia.

Sehingga, temuan ini memberikan wawasan baru terkait dampak letusan Gunung Toba dan mengoreksi pandangan yang sudah ada sebelumnya.

Source link